Jumat, 13 Mei 2011

Menanjak Bukan Lagi Sebuah Momok.

Jurnal Evie Permata Sari


“Bu, berdoalah malam ini dan apapun jawaban Ibu besok akan Evie jalani, diijinkan atau tidak untuk bersepeda ke Jepara semuanya terserah pada Ibu, Evie akan lakukan apa yang akan Ibu sampaikan besok….”
Menerima Piagam Penghargaan dan pengalungan kain torso
dari Bupati Jepara Bapak Hendro Martojo 


Itulah sepenggal pembicaraan aku dan ibu ketika aku meminta ijin untuk bersepeda bersama 9 (Sembilan) Srikandi B2W dari Jakarta ke Jepara. Support yang aku butuhkan dari Ibu sangat ku perlukan dimana nantinya aku harus melintasi ratusan kilometer dengan mengayuh sepeda serta medan yg tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Ini adalah pengalaman pertamaku melakukan touring bersepeda dengan Tim intinya 10 (sepuluh) orang perempuan.

Pada awalnya banyak yang menyangsikan kemampuanku untuk melakukan perjalanan ini, ada yang mengatakan “jalan raya bukan untuk perempuan dia tidak manusiawi”, “kurang kerjaan” dan lain sebagainya. Apalagi dibeberapa simulasi latihan jarak jauh, aku dua kali mengalami kecelakaan terjatuh dari sepeda dengan lebam-lebam dikaki kiri dan tergores krikil aspal di pipi kananku –aku mendapat julukan korban “KDRT” (Kecelakaan dalam Rute Turunan/Tanjakan) – itu semua tidak membuat aku patah semangat. Full support dari Tim yang luar biasa yang aku rasakan serta dari keluarga mendorong aku untuk tetap terlibat dalam Tim 10 Srikandi B2W Gowes ke Jepara.

Poligon Heist 0.3 kendaraan 10 Srikandi
Nerves mendekati Hari H
Sakit perut, berdebar-debar itu yang kurasakan menjelang persiapan pada hari keberangkatan tgl 13 April 2011. Semua kebutuhan sudah aku catat termasuk obat-obatan pribadiku, semua keluarga sudah aku hubungi dan memohon maaf bila terjadi sesuatu yg tidak diinginkan dijalan nanti. Beberapa kali aku hubungi ibu, baik melalui telpon maupun sms, rasanya seperti mau ke medan perang saja perasaanku saat itu, namun melihat dukungan dan semangat dari teman-teman dekat membuat aku menjadi tenang.

Menjelang keberangkatan akhirnya tiba juga, melaju bersama para Srikandi, bersepeda menuju Kantor Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KNPPA). Terdengar lagu-lagu perjuangan yang membuat kami memaknai bahwa misi yang kami bawa menuju Jepara adalah juga sebuah perjuangan dan semangat bagi kaum perempuan. Pesan-pesan yang disampaikan oleh Ibu Linda Amalia Sari, Menteri KNPPA bagaikan ibu bagi para Srikandi serta nasehat yg disampaikan oleh Om Toto Sugito selaku Ketua Umum B2W Indonesia menjadi semangat kami selama perjalanan menuju Jepara.

Dan dimulailah pengalaman perjalananku….
Etape pertama Jakarta-Purwakarta total jarak 110 km kami lalui. Aku belum menemukan ritme kayuhanku dengan teman-teman yang lain sehingga aku menjadi orang yang selalu tertinggal, namun aku tidak pernah sendirian, karena ada teman-teman lain dari komunitas pesepeda baik dari Tangerang, Jakarta maupun Bekasi yang menemani kami sampai perbatasan Karawang. Mereka selalu berada disebelah kanan dan belakangku untuk memberikan semangat padaku yang mulai kelelahan. Mendekati Cikarang, sepedaku mengalami masalah, kayuhannya begitu berat dan ketika dicek ternyata rem belakang menempel terus pada ban, sehingga aku harus ganti sepeda lain untuk meneruskan perjalanan, sementara Tim Teknis memperbaiki sepedaku (Terima Kasih buat Ulil ).

Panas mulai aku rasakan diawal perjalanan ini, lagi-lagi teman-teman selalu memberikan support terus serta mengingatkanku untuk tetap minum walau tetap saja aku tertinggal di belakang. Menjelang siang hari, kondisiku sudah mulai melemah, perutku mulai sakit karena PMS (Post Menstruation Syndrome) akhirnya aku hanya bisa selesaikan etape pertama ini di Karawang tempat makan siang, setelahnya aku harus masuk ambulance. Sedih juga perasaanku saat itu, membayangkan teman-teman berjuang melawan panas sementara aku mesti tiduran di ambulance. Namun aku bangga mempunyai Tim Srikandi, Pelatih dan Tim pendukung yang solid. Mereka semua membesarkan hatiku dan penuh perhatian, bisa bayangkan Mas Wang –Tim Logistik - yang selalu direpotkan dengan banyak permintaan logistik khusus buat kami perempuan semua, berusaha mencarikan minuman Kiranti buat ku (Terima kasih Mas Wang) dengan guyonannya yang selalu membuat kami tertawa. Juga Glen pelatih kami yang selalu memberikan semangat dan membesarkan hatiku, bahwa aku masih punya banyak hari lagi untuk melakukan perjalanan ini sehingga aku benar-benar merasa nyaman berada di ambulance sementara yang lainnya tetap melanjutkan bersepeda menuju Purwakarta. Kami semua sampai di penginapan lebih cepat 30 menit dari jadwal, bersamaan dengan itu hujan deras mengguyur kota Purwakarta.

Etape Kedua, keadaanku cukup sehat untuk melanjutkan kembali perjalanan etape kedua yaitu Purwakarta-Kadipaten (Sumedang) dengan jarak tempuh 120 Km. Rutinitas pagi mesti bangun jam 5.00 wib dan harus siap pukul 6.00 wib untuk melakukan sarapan, minum vitamin, cek tensi darah oleh Tim Dokter, pemanasan dan pukul 7.00 wib sudah siap mengayuh sepeda kembali. Kali ini perjalanan cukup lumayan pemandangannya serta banyak pohon rindang yang dilalui oleh kami, namun tetap saja kontur tanah pegunungan yang turun naik mesti kami lewati dan aku tetap kewalahan juga, apalagi aku masih belum bisa menemukan ritme kayuhanku dengan teman-teman sehingga aku masih tetap berada di belakang. Namun ketertinggalanku tidak membuat aku patah semangat, bahkan aku menikmati perjalananku dengan pemandangan yang ku lewati, persawahan, kebun tebu, melihat petani menggarap lahan, sesekali memandang puncak Gunung Ciremai yang indah tegak berdiri, seakan menyambut kedatangan kami didaerahnya.

Ada cerita lucu ketika aku harus melewati arah Kadipaten dengan jalan yang bergelombang panjangnya kurang lebih 20 Km. Beberapa teman-teman sudah melaju dengan kecepatannya masing-masing. Karena kontur tanah yang bergelombang sehingga aku bisa melihat dari kejauhan mereka sudah jauh di depan, sementara aku dan Tante Rifa menikmati perjalanan berdua sambil bercerita. Kami sengaja ngobrol sepanjang perjalanan bergelombang agar melupakan bahwa jalan ini membuat kami bosan sambil menyamakan ritme kecepatan kami berdua. Tidak terasa akhirnya selesai sudah kontur tanah bergelombang yang kami lalui, sedikit masih ngobrol aku mencoba untuk menambah kecepatanku sambil belajar juga bagaimana kalau di jalan yang datar. Aku menikmati laju sepedaku dengan kecepatan rata-rata 20 km/jam, semakin ringan bila di jalan datar seperti itu. Oupsss….. tiba-tiba aku tersadar Tante Rifa aku tinggal terlalu jauh, perasaan tadi masih nyambung obrolan kita dan ku tengok kebelakang ternyata aku sendirian (duhh maaf ya Tante Rifa..). Mau menunggu yang dibelakang sudah jauh 4 Km, sementara mau menyusul yang di depan aku sudah ketinggalan 8 Km ini aku ketahui dari David yang hilir mudik mengendarai motornya, akhirnya aku memutuskan melanjutkan perjalananku dan dipertengahan jalan aku menerima tawaran evakuasi dari Tim Logistik untuk sampai pada titik grouping dimana semua Tim berkumpul.

Sebetulnya jalur Kadipaten adalah jalur yang mendadak dipertengahan jalan Tim harus memutuskan. Setelah mendapat informasi dari beberapa teman-teman B2W di Sumedang dan konsultasi ke Jakarta bahwa jalur Subang-Sumedang bila dilalui oleh Tim Srikandi agak beresiko apalagi bila siang hari sering turun hujan pada kontur tanah yang berbukit cukup berbahaya. Akhirnya diputuskan memakai jalur tengah yaitu Kadipaten walau akan menambah jarak sejauh 40 km, tetapi cukup aman dan untuk perjalanan keesokan harinya menuju kota Cirebon justru menjadi lebih dekat sekitar 55 Km. Dan keputusan ini adalah keputusan yang tepat dan cepat, demi kenyamanan dan keselamatan semuanya, Glen memutuskan hal ini.

Hari kedua ini Tante Rini harus masuk ambulan seperti penyakit ku di hari pertama PMS (Post Menstruation Syndrome) tapi kelihatannya lebih parah, karena Ceuceu panggilan sehari-harinya, harus memakai oksigen dan diinfus. Sesampai dipenginapan, aku sekamar dengan Ceuceu dan Tante Meika, kami berdua menjaga dan mengingatkan makan agar besok pagi bisa pulih dan siap melakukan perjalanan kembali.

Etape ketiga, Kadipaten- Cirebon yang hanya berjarak 55 Km, dapat kami lalui kurang lebih 3 jam perjalanan. Ini adalah etape paling singkat dari enam etape yang kami lalui. Pukul 9.30 kami semua sudah sampai di Kota Cirebon bahkan teman-teman B2W Cirebon juga merasa kaget karena kami sampai sangat cepat sekali, sehingga kami mesti menunggu beberapa menit untuk memberikan kesempatan mereka menyiapkan penyambutan kami menuju kota Cirebon. Di Cirebon inilah kami beristirahat satu hari sambil menikmati Keraton Kanoman Cirebon dan sempat bertemu dengan Pangeran Patih salah satu dari keturunan Kasultanan Cirebon.

Etape keempat, Cirebon-Pekalongan. Ini merupakan etape terpanjang 136 km dan juga merupakan etape terpanas dengan suhu udara kisaran 31 derajat celcius dengan kondisi lalulintas yang padat dijalur Pantura. Namun pengalaman dietape ini adalah, teman-teman Ranger yang berjumlah 5 (lima) orang dari Tangerang sengaja datang ke Cirebon untuk menemani kami sampai ke Pekalongan kemudian diperbatasan Brebes ternyata kami disambut oleh kepala Dinas Perhubungan dan DLLAJR kota Brebes dialun-alun kota. Kami disuguhi buah-buahan dan pisang rebus serta minuman, dan disambut oleh banyak sekali komunitas sepeda. Disana sempat rehat sebentar sebelum dilepas oleh kepala Dinas Perhubungan kota Brebes. Sesuatu yang tidak kami duga dengan penyambutan yang luar biasa kepada kami, rasanya benar-benar menyalakan semangat kami. Apalagi sejak dari kota Cirebon, sudah mendapatkan pengawalan dari DLLAJR dan POLANTAS, sehingga perjalanan kami jauh lebih aman melintasi jalur pantura.

Namun panas menyengat yang membuat aku benar-benar kehabisan nafas sehingga selalu diingatkan untuk terus minum 10 menit sekali. Makanan dan minuman terus diberikan oleh Tim Logistik kepada kami, sembari mengayuh sepeda. Tidak disangka ternyata cukup lihai juga aku bisa menerima bike feeding dari mobil logistik, seperti atlet saja kami semua padahal selama simulasi latihan tidak pernah ada latihan bike feeding, dimana konsumsi makanan dan minuman diberikan dari mobil logistik sambil berjalan dan kita tetap mengayuh sepeda tanpa harus berhenti.

Perjalanan yang cukup melelahkan tetap saja selalu diselingi dengan candaan, baik dari Tim Logistik maupun dari Tim Srikandi. Ketika aku sudah kelelahan, mobil logistik melintas dan Mas Wang akan meneriakan pada kami, “mau pesen apaan…” kita semua akan berteriak, “pecel lele”, “rujakkkk”, “es campur”….. dan kami semua tertawa… hilang sesaat panasnya Pantura. Dan lagi-lagi sebelum melewati perbatasan kota Pekalongan, kami sudah ditunggu banyak sekali komunitas pesepeda yang akan mengantarkan kami memasuki kota Pekalongan, benar-benar hal yang diluar dugaan, begitu besarnya apresiasi masyarakat terhadap perjalanan para Tim Srikandi ini menuju Jepara, kami merasa tidak sendiri tetapi selalu ditemani dan disemangati oleh masyarakat yang daerahnya kami lintasi. Pukul 16.35 wib, dengan kecepatan rata-rata 22 km/jam, kami sampai di penginapan Pekalongan dengan penyambutan yang luar biasa dari komunitas sepeda yang berada di Pekalongan dan juga rekan-rekan media yang sudah berkumpul di sana. Perjalanan terpanas yang kami lintasi berakhir sudah dengan tepukan gemuruh dan jabatan hangat dari komunitas sepeda, serta kawalan dari teman-teman Ranger melupakan wajah-wajah kami yang telah terbakar matahari. Hasil pemeriksaaan dokter pada malam hari, tensi darah kami rata-rata mengalami kenaikan dibandingkan hasil pagi sebelum memulai perjalanan. Tetapi kami semua sampai dengan selamat dan tidak kurang suatu apapun dari semua Tim dan tak lupa pula setiap aku sampai atau menjelang keberangkatan dari satu etape ke etape lain pasti aku langsung mengabarkan ibuku, karena beliau sarat dengan doa-doa sepanjang perjalananku.

disambut warga dan murid sekolah
Etape kelima, Pekalongan-Semarang dengan jarak tempuh 97 Km dengan kontur jalan yang sangat berbeda dari semua etape yang dilalui akan banyak melewati tanjakan dan jalan yang berbukit, karena kami harus melewati daerah Alas Roban yang cukup terkenal. Membayangkan tanjakan perasaanku sudah ngilu karena mengingatkan ku pada jalur latihan ke bandung ketika melewati tanjakan Cariu. Di sana aku pernah terjatuh dan tergelincir dikrikil aspal yang mengenai pipi kananku. Hari itu, aku benar-benar membayangkan tanjakan yang nanti aku hadapi dan membuat aku ciut. Namun melihat semangat teman-teman Srikandi membesarkan hatiku kembali.

Perjalanan kembali dimulai dengan tetap mendapatkan pengawalan dari Polantas dan Dinas Perhubungan, mendekati daerah Batang kami dikagetkan dengan sekumpulan anak-anak sekolah serta guru-guru yang berdiri dipinggir jalan dan membawa spanduk “Selamat datang Srikandi B2W Gowes ke Jepara”, kejutan lagi bagi kami. Mereka berteriak melambaikan tangan dan memberikan kami semangat. Kemudian sampai di Batang, kami harus berhenti, karena Kapolres Batang serta pemda setempat ingin mengawal kami sampai perbatasan. Beberapa murid-murid SD serta guru-guru berkumpul membawa spanduk “Selamat datang Srikandi B2W Gowes ke Jepara” dan panggung kecil didirikan di pinggir jalan. Melihat ini semua, aku terharu dan menitikan airmata betapa perjalanan kami ini ternyata membawa begitu banyak semangat dan harapan, melihat murid-murid harapan bangsa ini begitu antusias menyambut kedatangan kami, tidak bisa berkata apa-apa lagi selain mengumpulkan semangat dari mereka agar aku bisa melintasi tanjakan nanti. Melanjutkan perjalanan dari Batang dengan dikawal oleh Polwan-polwan yang bersepeda serta banyak komunitas sepeda lainnya yang melepas perjalanan kami. Sepanjang melintasi perjalanan ke Semarang, banyak sekali ditemui anak-anak sekolah berkumpul di pinggir jalan menyambut kedatangan kami. Setiap bertemu dengan mereka aku seperti mengumpulkan sebuah kekuatan untuk dipakai melintasi tanjakan di Alas Roban, nama yang begitu melekat karena terkenal dengan jalan yang berbukit dan tikungan yang tajam.

Mulai menapaki tanjakan pertama, posisiku masih tetap dibelakang teman-teman Srikandi lainnya dan berusaha mencoba menikmati perjalanan dengan hati yang ketar-ketir. Untung, Glen pelatih dan sahabat kami yang selalu berada didekat ku terus membantu aku melewati tanjakan demi tanjakan sembari memberikan strategi-strategi mengayuh yang benar dengan memainkan roda gigi depan dan belakang. Satu persatu tanjakan dan turunan berhasil aku lalui, namun masih banyak lagi di depan mataku yang harus aku lewati. Bila sudah berjalan diatas tanjakan, kadang aku tidak berani melihat kedepan lebih sering aku melihat kebawah walau sesekali aku melihat kedepan juga.

Pada titik putus asaku melewati tanjakan lainnya, aku hanya berdoa dan selalu membayangkan ibu dan terngiang ditelingaku “tetap semangat”, terus ku kayuh pelan-pelan sepedaku sambil terus menatap ke bawah hingga mendekati puncak, tiba-tiba terdengar teriakan dan gemuruh tepuk tangan memberikan aku semangat, “hayoo terus..”, “sedikit lagi..”, “hayoo bisa..” aku seperti bermimpi dan kulihat ke depan ternyata diujung sana begitu banyak anak-anak sekolah yang berkumpul menyambut kami, dan aku seperti terpacu untuk bisa sampai ke puncak jalan dengan perasaan yang ringan. Sesampai diatas mereka semua bertepuk tangan dan menyambutku, aku dibuat terharu dan menangis lagi, ahh untung kacamata pelindungku tidak memperlihatkan kepada mereka betapa aku sangat terharu sekali atas semangat mereka. Dan sejak itu, ketika aku melintasi tanjakan yang tinggal sedikit lagi, rasanya tidak terasa menakutkan dan bukan merupakan momok bagiku, karena semangat dari anak-anak sekolah seperti memberikan aku kekuatan untuk mencapai puncak dan menikmati bonus turunan. Ditambah lagi, aku banyak belajar dari Glen bagaimana aku harus mengatur roda gigi ketika melewati tanjakan ataupun turunan, dan aku menikmati sampai melewati turunan Alas Roban dan berakhir di kota Kendal untuk makan siang dan istirahat bersama para Pemerintah Daerah Kabupaten Kendal, Kapolres Kendal serta komunitas sepeda disana.

Lagi-lagi penyambutan oleh komunitas sepeda yang tidak pernah berhenti dari satu kota ke kota lain, sebelum perbatasan Semarang, kami sudah ditunggu oleh teman-teman komunitas sepeda dari Semarang untuk mendampingi kami menuju kota Semarang. Sesampai di Balaikota Semarang tepat pukul 15.30 wib, lebih cepat satu setengah jam dari jadwal semula. Kami berpelukan semua, karena berhasil melintasi tanjakan Alas Roban yang terkenal dengan selamat semua. Etape ini adalah perjalanan yang begitu mengesankan, aku bisa mengalahkan diriku sendiri, mengatasi ketakutanku atas tanjakan dan mengajarkan aku arti solidaritas Tim. Satu Etape lagi yang harus kami lalui menuju Jepara.

Etape keenam, Semarang-Jepara. Ini adalah etape terakhir dengan jarak 73 Km. Diawali dengan pelepasan oleh Walikota Semarang di Balaikota, Tim Srikandi memulai perjalanan menuju kota akhir yaitu Jepara. Sudah beberapa hari ini, ritme kecepatanku sudah bisa menyampai teman-teman Srikandi, kadang aku mulai berada dibarisan paling depan namun kalau tidak tahan dengan tekanan angin dari depan, aku akan mundur berada dibelakang salah seorang Srikandi agar memecah arah angin sehingga kayuhanku tidak terasa berat, ini juga strategi yang aku pelajari selama perjalanan dengan teman-teman. Relatif perjalanan menuju Jepara tidak banyak kendala, terkadang kami suka tertawa ketika ada yang berteriak “awas sepeda ria mau lewat”, atau juga “ada sepeda fun bike”. Terkadang teriakan patroli polisi membuat kami agak bingung ketika mereka mengatur lalulintas agar para pengendara motor dan mobil tidak melintasi jalur kiri, dari pengeras suara mobil patroli terdengar pak polisi mengatur arah jalan raya, “tolong mobil dan sepeda tetap berada di jalur kanan..”, pertama-tama kami bingung kenapa sepeda juga mesti ikutan ke kanan, sementara mobil patroli di depan yang arahnya kami harus ikuti tetap berada di sebelah kiri. Baru kami mengerti ketika bapak Polisi mengatakan lagi, “mobil dan sepeda tetap berada di jalur kanan, sepeda onthel akan lewat”…. Ohh rupanya diwilayah Jawa Tengah kalau motor akan disebut dengan Sepeda Motor dan kalau sepeda di sebut Onthel… jadi kami suka tertawa ketika banyak yang menyambut kami dengan teriakan sepeda onthel… karena kalau di Jakarta yang di sebut sepeda onthel adalah sepeda kuno/antik.

Kantor Walikota Semarang
Pati Lurus, Jepara Kiri
Aku lihat papan penunjuk arah yang telah menyebutkan arah Jepara. Melihat nama Jepara di papan penunjuk arah sudah membuat aku merinding. Bagaimana tidak, beberapa jam lagi kami akan sampai di Bumi Pertiwi tempat kelahiran R.A. Kartini. Aku melihat semangat teman-teman Srikandi begitu menggelora sehingga kecepatan kayuhannya hampir rata-rata 21 Km/jam. Aku juga begitu semangat ingin cepat sampai di Jepara yang diperkirakan awalnya kami akan sampai pada pukul 4 sore. Namun pada pukul 9.30 wib kami sudah sampai di daerah perbatasan Jepara, kira-kira 20 km lagi dari Jepara. Rencananya kami harus berhenti untuk makan siang disana sebelum melanjutkan perjalanan ke Jepara, namun apadaya kami sampai jauh lebih pagi dari yang diperkirakan, sehingga Tim memutuskan untuk melanjutkan saja sampai finish di kota Jepara.

Sejak dari etape ketiga di Cirebon, Tim selalu sampai lebih awal dari jadwal yang telah direncanakan semula. Semuanya seperti diberikan kekuatan yang luar biasa dalam mengayuh sepedanya hingga tidak terasa begitu cepat dari waktu yang telah ditentukan. Gerbang kota Jepara sudah mulai terlihat dan sebagian berteriak “JEPARA…. “, dan tepat pukul 11.20 wib, kami tiba di Musium Kartini. Pecah sudah tangis dan haru melingkupi kami semua sembari berpelukan pada semua Tim. Tak lupa doa syukur langsung kami hantarkan untuk Sang Khalik, yang selalu melindungi perjalanan kami dari awal hingga akhir. Ucapan selamat dan jabatan hangat dari semua teman-teman komunitas sepeda dan para wartawan menyambut haru. Kami berhasil melewati tiap rintangan dengan tetap solid dan penuh semangat. Aku langsung menelpon ibu dan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga buat support dan doanya selama ini, aku menangis diujung telepon mendengar suara ibu. Aku yang selama latihan sering terjatuh dan menjadi korban “KDRT”, namun selama perjalanan dari Jakarta menuju Jepara tidak sedikitpun tergores luka.

Di Musium Kartini
Pengalungan kain Torso dan pemberian penghargaan dari Bapak Bupati adalah hadiah terindah buat Ibu. Jepara, kota kecil yang apik dan bersih penuh dengan semangat Kartini tidak akan pernah aku lupakan, tidak akan pernah. Karena disana ada jiwaku yang tumbuh membesar bersama pohon jati di SD SEMAI dengan sahabat-sahabat kecilku Rama dan Meyla yang merawatnya.

605 Km, “ ini perjalanan panjang paling Gila “ Kompas, 20 April 2011

Jakarta, 29 April 2011

Minggu, 08 Agustus 2010

AKU DAN DIA DALAM SENJA YANG BASAH

(Tulisan hujan di malam minggu)

Menikmati senja di sore hari yang basah karena diguyur hujan terasa menyejukan hatiku. Angin dingin perlahan kunikmati menyapu wajahku dari sisi pintu kamar yang sengaja terbuka agar aku bisa melihat hujan mengguyur tanamanku. Ku lihat pula Cipuy, kucing anggora ku sedang berbaring manja didekat kakiku sambil memandang hujan, mungkin sama sepertiku diapun ingin menikmati senja ini.

Pasti lebih nikmat bila ku buat secangkir teh hangat untuk menemaniku bekerja dan untukmu Cipuy, aahh segenggam kitten milk pasti sudah cukup untuk tidak membuat dirimu mengeong karena lapar. Kita berdua seperti sama-sama menikmati sepi dan hening sambil mendengarkan lagu rinai hujan di luar sana. Aku tidak menunggu siapa-siapa pada malam ini, seperti minggu-minggu sebelumnya aku tidak menunggu siapa-siapa tapi kelihatannya kau sedang menunggu sesuatu.

Lihatlah, aku sedang menikmati hari-hariku dalam kesendirian yang bersahaja, seharusnya kau seperti itu. Tidak perlu gusar akan sesuatu yang sedang membuatmu galau, karena aku tahu usia mu masih belia belum cukup untuk mencari pasangan hidupmu. Hei.. kenapa kau menatapku seperti itu, seperti ingin mengatakan bahwa “aku sedih melihatmu dalam kesendirian”… haa .. haa ..haa… dunia tidak seperti yang kau bayangkan dalam bola matamu yang mungil itu..

Kesendirianku bukan berarti akhir dari semua rencana hidupku, banyak hal yang harus aku lalui dengan kesahajaanku tentunya. Kau merasa tidak yakin apa yang aku katakan tadi…? Kau merasa kalimat tadi hanya sebagai alasanku sajakah ….?, habiskan dulu kitten milk mu itu, jangan merajuk didekat kakiku, aku tidak marah dengan apa yang kau sangka karena sudah sering aku dengar dari banyak orang yang mengenalku tentang hal ini. Bahkan mereka juga mengira aku orang yang terlalu banyak memilih dalam kesendirianku, tentu saja aku harus memilih mana yang baik buatku bukan asal saja menerima sekedar menyenangkan hati banyak orang.

Kau pun begitu bukan? Aku pernah melihat mu ketika didatangi seekor kucing jantan hitam dengan wajah galak yang mencoba menerkammu dengan rasa birahi yang tinggi, kau lari terbirit-birit masuk ke kamarku dan aku mencoba membantumu untuk mengusir dari kejarannya. Kemudian ku lihat kau ketakutan disudut kamarku, dengan wajah yang membuatku iba pelan-pelan aku dekati dirimu dan ku peluk sampai kau merasa nyaman dan aman. Hee heee… kenapa kau malu seperti itu, bila kau seorang gadis muda tentu merona raut wajahmu, wajahmu terlalu mungil untuk ku buat gemas saat ini.

Ahh … sudahlah, mari kita nikmati saja secangkir teh ku yang sudah mulai habis dan makananmu yang sudah ludes pula. Malam sudah menggantikan senja di sore hari ini, aku tidak menunggu siapa-siapa seperti halnya minggu-minggu yang lalu dan aku tidak iri padamu, karena kulihat kucing jantan berwarna coklat itu menantimu dengan sabar untuk kau dekati.

Ayolah.. kau nikmati saja malam minggumu bersamanya, aku lihat dia tidak seperti si hitam yang garang, dia lebih menghargaimu karena kau masih belia…tapi bila dia memaksamu juga ingatkan dia jangan lupa pakai kondom karena kau belum siap beranak pinak…..

Jakarta, 7 Agustus 2010
Sabtu yang dingin
21.48 wwib.

Jumat, 19 Maret 2010

PINTAR DALAM MENGELOLA JARINGAN SOSIAL DARI FACE TO FACE KE FACEBOOK

OLEH: EVIE PERMATA SARI
Konselor


Sejak internet ditemukan, kehidupan berubah. Sistem komunikasi hingga hubungan sosial ikut bergeser. Bila dulu komunikasi tatap muka (face to face), kini orang bergaul melalui jejaring dunia maya. Terakhir melalui Facebook (FB), yang menawarkan pertemanan gaya baru. Sejak resmi ditemukan dan diluncurkan oleh remaja bernama Mark Zuckerberg tahun 2004 lalu, FB terus menebar "virus" jejaring sosial virtual di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Akhirnya jutaan orang merasa menemukan bentuk sosialisasi baru yang terkesan nyata.

Bila kita cermati lingkungan sekitar, tak sulit menemukan orang terlihat asyik sendiri di tengah keramaian melototi layar komputer atau alat komunikasi portable lainnya untuk dapat mengakses Facebook (FB). Kita bisa menemukan kenyataan yang ironis, orang yang merasa paling ”gaul”, sebenarnya justru asosial. Itulah fenomena sosial yang kini hadir di sekitar kita. Mungkin sebagian dari kita mengalaminya begitu asyik dengan FB tanpa memandang tempat, tidak hanya di tempat umum, di rumah, sekolah, di kantor, warnet, restoran, kafe, bandara, bahkan di rumah sakit.

FB menghubungkan seseorang dengan sejumlah orang yang tak dapat dijumpainya di dunia nyata. Seperti; teman-teman sekolah yang tak tahu di mana rimbanya, berteman dengan orang-orang yang sosoknya terasa jauh di alam nyata. Ada artis, politisi, budayawan, atau sejumlah orang beken.

Itulah keajaiban FB yang mampu menetralkan jarak, waktu, serta batas sosial. Bisa jadi inilah pertanda bahwa zaman baru telah tiba. Zaman yang merevolusi cara orang dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Komunikasi terjalin sedemikian intens dalam kesunyian, tanpa suara dan interaksi empat mata, apalagi sentuhan tangan yang hangat. Realitasnya tidak tahu dimana temannya berada, tetapi di dunia serat optik ia bertemu dengannya. Orang tidak lagi perlu tahu temannya yang di seberang sana, alamatnya di mana. Namun, ketidaktahuan teritorial geografis di alam nyata bukan hambatan untuk berkomunikasi. Lucunya, semua orang percaya saja bahwa teman-teman di FB adalah benar teman yang kita kenal di dunia nyata. Itulah yang membuat orang termangu di depan komputer terhadap "Keriuhan" komunikasi bagi jutaan orang di dunia ini.

Jadilah Facebooker Cerdas

Situs jejaring sosial seperti Facebook (FB) seharusnya dapat menjadi bumbu kehidupan sosial kita. Sayang, ada kalanya orang jadi salah arah, antara lain karena kelewat banyak meninggalkan tugas demi menggauli dunia maya.

Berikut beberapa tip menjadi Facebooker cerdas:

• Pastikan tujuan anda bergabung dengan FB
Hal ini penting agar Anda sadar bahwa FB merupakan fasilitas untuk mencari atau memperluas jalinan sosialisasi di dunia maya. Tujuan ini juga penting agar Anda tidak terlena bermain di FB. Jangan sampai pekerjaan terabaikan dan lupa bergaul dengan orang-orang sekitar di dunia nyata alias menjadi asosial.

• Selektif memilih teman
Sama seperti di dunia nyata, pilihlah teman yang memberikan manfaat sosial maupun berguna bagi jaringan Anda secara nyata, misalnya teman sewaktu kecil, sekolah, dan teman bisnis. Bisa juga orang yang sulit Anda temui dalam dunia nyata karena alasan tertentu seperti jarak, wilayah, dan waktu.

• Jangan jadikan FB sebagai identitas
Ingatkan diri Anda bahwa FB hanya fasilitas, bukan sebaliknya sebagai indentitas yang membuat Anda menjadi kecanduan. Selama ini ada kecenderungan, sebagian orang merasa "pede" ketika bergaul di FB, tetapi di dunia nyata justru sebaliknya. Jika Anda sudah termasuk golongan ini sebaiknya Anda berkonsultasi ke psikiater, bukan lari ke FB.

• Hindari umbar data diri
Berikan indentitas diri seperlunya saja karena tidak ada kewajiban untuk memberikan data secara lengkap dan detail (foto, gambar, video, dan lainnya). Jika Anda ingin memberikan data pribadi ke orang lain sebaiknya tidak melalui FB, tetapi melalui jalur pribadi (japri) seperti e-mail atau telepon langsung. Hal ini penting untuk menghindari data Anda digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

• Bijaksanalah saat mau curhat atau buka rahasia
Hampir sama dengan poin sebelumnya, jika Anda ingin curhat dan sejenisnya, lebih baik tidak melakukannya di FB. Gunakan saja e-mail, telepon, atau lakukan saat sedang makan siang bersama teman misalnya. Contohnya, Anda curhat tentang perusahaan tempat Anda bekerja. Padahal, di antara teman jejaring itu ada klien Anda. Bayangkan penilaian klien tentang kualitas pribadi Anda!

• Jangan menggantikan pergaulan nyata
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk membangun sosialisasi dan pertemanan. Jangan sampai Anda merasa "gaul" di FB, tetapi kesepian di pergaulan dunia nyata. Pada dasarnya sosialisasi dan pertemanan nyata akan lebih berharga, terutama karena memberikan efek psikologis yang menyehatkan bagi jiwa dan raga.

Lebih baik memiliki sahabat secukupnya dan ada di sekitar kita, daripada berjuta sahabat tetapi entah di mana mereka berada saat Anda butuh pendamping untuk ke dokter misalnya.

• Hindari memasang FB terlalu lama di layar monitor
Perkembangan teknologi terus berubah, sehingga di mana pun kita bisa bermain FB. Baik melalui layar komputer maupun perangkat komunikasi yang relatif lebih mudah di bawa ke manapun seperti Blackberry, membuat siapa pun mudah mengakses FB.

Inilah Ancaman FB

• Mengisolasi diri berlebihan
Laporan The Daily Mail menyebutkan, kecanduan situs jejaring sosial seperti FB atau MySpace juga bisa memicu orang untuk mengisolasi diri. Isolasi mengubah cara kerja gen, membingungkan respons kekebalan, level hormon, fungsi urat nadi, dan merusak performa mental. Suatu hubungan menjadi kering ketika para individunya tak lagi menghadiri pertemuan sosial, menarik diri dari keluarga, dan lebih memilih menatap komputer atau ponsel. Ketika harus berinteraksi, mereka gelisah karena "terpisah" dari komputernya.

• Risiko stroke dan kanker meningkat
Terlalu asyik dengan dirinya maupun pergaulan maya dikhawatirkan bisa meningkatkan risiko kesehatan yang serius, seperti kanker, stroke, penyakit jantung, dan kepikunan, demikian menurut Dr Aric Sigman dalam The Biologist, jurnal yang dirilis oleh The Institute of Biology.

Pertemuan secara face to face memiliki pengaruh pada tubuh, yang tak terlihat ketika mengirim e-mail. Level hormon seperti oksitosin yang mendorong orang untuk berpelukan atau saling berinteraksi berubah, tergantung dekat atau tidaknya para pengguna. Beberapa gen, termasuk gen yang berhubungan dengan sistem kekebalan dan respon terhadap stres, beraksi secara berbeda, tergantung pada seberapa sering interaksi sosial yang dilakukan seseorang dengan yang lain. Media elektronik juga menghancurkan kemampuan anak-anak hingga orang dewasa muda untuk mempelajari kemampuan sosial dan membaca bahasa tubuh. Penduduk Inggris sudah sampai mengurangi interaksi dengan sesama sehari-harinya.

• Risiko kerusakan fisik
Kerusakan fisik juga sangat mungkin terjadi. Menggunakan mouse atau memencet keypad ponsel selama berjam-jam setiap hari dapat memicu cedera. Sakit punggung umum terjadi pada orang yang menghabiskan banyak waktu di depan komputer.

• Menurunkan daya tahan tubuh dan meningkatkan risiko obesitas
Jika di malam hari Anda masih sibuk mengomentari status teman, Anda juga bisa kekurangan waktu tidur. Kehilangan waktu tidur dalam waktu lama dapat menyebabkan kantuk berkepanjangan, sulit berkonsentrasi, dan depresi. Seseorang yang menghabiskan waktunya di depan komputer juga akan jarang berolahraga, sehingga kondisi fisik melemah, bahkan bisa mengalami obesitas.

• Sifat narsis merugikan
Ilmuwan di University of Georgia menyebarkan tes kepribadian terhadap 130 pengguna FB dan menganalisis profil mereka. Para peneliti menemukan jumlah pesan dan postingan sangat berkorelasi dengan seberapa narsisnya mereka. Kata pimpinan studi, Laura Buffardi, Ph.D, orang yang narsis di FB bisa ditandai dengan tampilan glamor pada foto diri utama mereka.

Narsisme menghalangi kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan pertemanan yang sehat dan hubungan jangka panjang. Narsisme juga berisiko munculnya ekshibisionisme atau kecenderungan mempertontonkan diri yang memunculkan pornoaksi/pornografi.

• Memicu gejala skizofrenia
Terlalu asyik dengan pergaulan virtual, orang menjadi kesulitan membedakan dunia nyata dan maya. Inilah yang dikhawatirkan memicu gejala skizofrenia

Karena itu, jangan tergoda untuk memasang FB di layar monitor telalu lama saat Anda membuka Internet. Cukuplah sekadar sign in, mengonfirmasi friend requests, lalu sign out. Jika ritual itu dirasa cukup, tampaknya Anda tak perlu khawatir bakal terkena gejala asosial, skizofrenia, kemungkinan kanker, stroke, bahkan menderita pikun.


Dari berbagai sumber.


Jakarta, 13 Maret 2010

* disampaikan dalam silahturahmi facebookers, di TMII Anjungan DKI, 13 Maret 2010.

Rabu, 06 Januari 2010

Karena sebuah kecerobohan yang bodoh...

09.45 wib
Di depan loket Kereta Api stasiun Manggarai.

"Pak, AC Ekonomi jam berapa?", tanyaku kepada petugas penjaga loket. "10.30'', jawabnya sambil terus merobek karcis kereta. hmmm... masih terlalu lama, pikirku sembari melirik jam tanganku. ''Kalo yang biasa lama gak?", tanyaku lagi. "sebentar lagi kok", jawab petugas loket tersebut. "Saya beli yang biasa ke Bogor deh", kataku memutuskan untuk menaiki kereta listrik ekonomi jurusan Bogor. Sambil memberikan uang sepuluhribuan kepada petugas loket tersebut, aku tanya lagi padanya, "loh kok itu ada yang AC", tanyaku sembari melihat ke jalur kereta. "bukan, itu jurusan Kota", jawab petugas sambil memberikan uang kembalian kepadaku. "Terima kasih ya..", jawabku. Sambil menghitung uang kembalian dari petugas, aku berjalan menuju arah pintu masuk. Didekat pintu masuk tersebut, kulihat ada seorang laki-laki pengemis tua menggunakan tongkat sedang bersandar ditembok. Sembari melewati pengemis tua tersebut, kuberikan sedikit uang receh kepadanya serta kuperlihatkan karcis kereta api kepada petugas penjaga.

Aku berjalan agak cepat menuju kereta yang sedang berhenti di lajur Bogor. Ku lewati lajur pertama dengan cepat tanpa menoleh kiri dan kanan, kemudian lewat lagi lajur ke dua dan ketiga dengan semakin cepat berjalan. Aku mulai terus berjalan menuju kereta yang sudah semakin dekat didepanku. Ketika akan menuju lajur keempat, perasaanku sudah memberikan sinyal agar aku hati-hati, karena terus saja menerobos lajur kereta api tanpa melihat kiri dan kanan layaknya ketika kita akan menyebrang jalan raya.

Dua lintasan kereta lagi yang akan aku lewati, namun persis didepanku, Kereta Api jurusan Kota sedang berhenti. Aku sempat menunggu apakah kereta ini akan berjalan atau tidak, namun tiba-tiba ada seseorang dibelakangku yang berlari menyebrangi kereta didepannya, reflek aku mengikuti orang tersebut yang telah duluan sampai diseberang sana. Namun, dengan hanya hitungan detik, tiba-tiba kereta api itu bergerak perlahan sambil membunyikan peluitnya yang panjang. Aku yang sudah terlanjur jalan sangat kaget sekali mendengar peluit tersebut dan ........ aku terjatuh persis diatas lintasan rel kereta api jurusan Kota dan kulihat kereta sedang bergerak perlahan menuju kearahku. Dengan masih ada kesadaran sepersekian detik, aku reflek menggulingkan badanku kearah belakang menjauhi lintasan rel didepanku dan pada detik itu pula aku mendengar semua orang yang melihatku terjatuh berteriak, kereta akhirnya berhenti dengan jarak dua meter dari tempatku terjatuh.

Aku langsung berdiri dan berjalan menuju tempat yang aman, nyaris nyawaku hilang karena sebuah kecerobohan dan ketidaksabaran untuk menunggu. Allah masih menyayangiku sebagai umat-Nya yang bandel untuk mendapatkan peringatan agar menjadi orang yang tidak ceroboh dan menjadi bodoh.

Sepanjang perjalanan di dalam KRL Ekonomi menuju Bogor, aku merenungi apa yang sudah ku lakukan sepanjang hari ini sebagai intropeksi diri. Dan aku yakin sebuah kekuatan doa telah menyelamatkanku dari bahaya yang besar, doa dari mulut seorang pengemis tua yang berada disudut pintu masuk stasiun tadi. Seseorang yang luput dari perhatianku ketika aku hanya memberikan padanya uang recehan sisa dari pembelian karcis kereta api, namun sempat kudengar dari mulutnya mengucapkan sesuatu doa untukku. Dan aku jadi teringat akan hutang niatku beberapa hari ini yang belum kulunasi untuk memberikan sumbangan karena belum sempatnya aku ke ATM untuk mentransfer, bahkan nyaris lupa ketika sudah berada di depan ATM untuk mentransfer sejumlah uang yang sudah aku niatkan beberapa hari yang lalu.

Sungguh, kejadian hari ini adalah sebuah peringatan untukku dan untuk kita semua bahwa kekuatan sedekah adalah benar adanya. Maka bersedekahlah kamu maka Allah akan memberikanmu lebih dari apa yang kamu inginkan dan jangan tunda apa yang sudah diniatkan dalam kebaikan, karena Allah jua yang akan memberikan balasannya.

Ditulis dalam perjalanan KRL Ekonomi jurusan Bogor
Jakarta, 29, Oktober 2009
11.30 wib.

Belajar Mencari Pencerahan Jiwa (bagian 2)

Melanjuti tulisan ku tentang sebuah kekuatan jiwa yang berdaya, ada sebuah cerita yang ditulis di dalam buku tersebut yaitu;

Ada seorang petualang yang dalam perjalannya sampailah ia di tepi sebuah pantai. Ternyata banyak sekali ancaman bahaya di pantai itu, namun si petualang itu mengetahui bahwa daratan di seberang lautan itu lebih aman. Ia pun ingin segera pergi ke seberang, tetapi tidak ada sarana jembatan maupun perahu yang dapat membawanya kesana, maka segeralah ia bangun sebuah rakit kecil. Ia kumpulkan kayu dan dedaunan sehingga terbentuklah rakit itu. Dengan tangan dan kakinya sebagai dayung, akhirnya sampailah ia ke seberang.

Sesampai diseberang, perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki, ia pikir,”Rakit ini telah membantuku, oleh karena bantuannya selama ini kepadaku, aku harus terus memikulnya melintasi daratan ini.” Maka si petualang itu berjalan sambil memanggul rakit tersebut dipunggungnya seperti seekor keledai, walaupun rakit itu sekarang menjadi beban dan tidak lagi berguna bagi dirinya.

Dari cerita diatas, aku melihatnya ada sebuah perjalanan batin dalam menemukan pengalaman mengarungi samudra pengetahuan. Bahwa akan lebih baik rakit itu ditinggalkan di pantai dan pergi meneruskan perjalanannya dengan berjalan kaki karena rakit itu digunakan untuk menyeberangi laut, bukan untuk dipikul. Buku-buku bacaanku seperti rakit, ia membantu kita menunjukan arah yang benar, namun ia tidak dapat membantu kita di pantai seberang lautan spiritual. Pengalaman spiritual untuk menemukan tujuan hidup inilah yang harus aku cari.

Apakah kamu seringkali diresahkan oleh pertanyaan mengapa kita ada di sini dan apa yang harus kita pelajari dari keberadaan kita setiap hari?. Disadari atau tidak, sesungguhnya ada arti dalam hidup ini dan segala sesuatu yang terjadi pada kita. Apa pun yang pernah terjadi pada kita, mempunyai alasan untuk terjadi. Bila kita tidak dapat memasuki kekayaan pengetahuan jiwa kita, maka kita akan dapat melihat hidup ini lebih dari sekedar rantaian peristiwa-peristiwa tak berarti dan akan menemukan pelajaran dan pesan dalam setiap peristiwa yang terjadi.

Betapa indahnya seandainya aku bisa memasuki kekayaan jiwa sendiri, tentu aku akan dapat melihat kehidupan dari perspektif yang baru dan segar. Tidak lagi diombang-ambingkan di lautan kehidupan ini, dan dihantam oleh setiap ombak penderitaan, melainkan dapat melihat hidup ini seperti tayangan film dengan terjemahannya di layar kaca, dimana kata-kata tersebut menjelaskan tentang apa yang terjadi ditingkat spiritual. Apabila aku dapat melihat dari mata jiwa, maka berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ku yang telah membuat aku merasa menjadi seperti orang yang tidak mempunyai harapan itu akan menjadi seperti awan yang bergerak dan berlari dengan latar belakang langit yang biru, cerah dan tenang. Ketenangan inilah yang harus selalu dipelihara sehingga dengan kesabaran aku akan menunggu peristiwa-peristiwa itu untuk berlalu. Dan sampai aku menyadari bahwa suatu hari nanti peristiwa yang menyedihkan itu akan berubah menjadi pemandangan yang penuh damai, kebahagian dan cinta.

Sebuah paragraf manis yang ditulis sebagai penutup Bab 2 sebagai berikut;

Dengan meluangkan waktu setiap hari dalam keheningan jiwa kita dan mulai mendengar jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tentang hidup kita, mari kita bertanya pada diri sendiri apakah niat kita berasal dari akal dan ego atau berasal dari jiwa, kebenaran dan cinta. Bila kita menemukan bahwa ternyata yang bicara adalah akal dan ego, mari kita menggali lebih dalam lagi hingga kita menemukan jawaban yang berasal dari tempat cinta kasih dan kebenaran.


Jakarta, 1 Nopember 2008

Belajar mencari pencerahan jiwa...

Aku lagi kerajingan mengikuti kelompok meditasi bersama dengan teman-teman ku. Saat ini aku sedang membaca sebuah buku tentang “Memberdayakan Jiwa Dengan Meditasi” (Empowering Your Soul Through Meditation) karya Rajinder Singh. Menurut buku tersebut, Memberdayakan Jiwa Kita Dengan Meditasi adalah berusaha menjelajahi kekuatan energi jiwa yang ada dalam diri setiap manusia serta bagaimana kita dapat menggunakannya untuk mengubah hidup kita. Buku ini menyadarkan pada kita akan adanya “jiwa yang diberdaya” dan kekayaan sifatnya seperti kebijaksanaan tak terbatas, keberanian, keabadian, kasih tulus, keterhubungan dan kebahagiaan.

Baru sampai Bab 3 aku baca, sudah mulai merasakan aura ketenangan jiwa. Bagaimana tidak, pada bab 1 dijelaskan tentang sifat jiwa yang diberdaya, bahwa dalam diri kita tersimpan kekayaan yang lebih daripada seluruh harta yang bisa kita kumpulkan selama hidup ini. Karena dalam diri kita terdapat sumber ilmu pengetahuan yang merupakan muara dari semua ilmu dunia. Sebuah cinta yang jauh lebih besar dan lebih memuaskan dari segala cinta yang pernah kita rasakan dalam hidup, telah menunggu kita dengan tangan terbuka. Kalau tahu hal seperti ini, bagaimana bisa aku sempat merasa patah hati, kecewa dan marah ketika merasakan cinta yang terhianati.
Ketakutan… ternyata kita juga mempunyai kekuatan dan tenaga untuk mengatasi rasa takut. Juga perasaan keterasingan sebagai induvidu dengan semua bentuk kehidupan, di dalam diri kita telah menunggu kebahagiaan dan kenikmatan yang begitu memuaskan. Semua kekayaan ini terdapat dalam diri kita pada jiwa yang diberdaya. Seharusnya aku juga tidak perlu merasa sangat terasing dan terpuruk manakala kegagalan hidup aku rasakan. Aku tidak menyadari, sebuah kekuatan besar untuk menaklukan semua itu ada pada jiwaku sendiri. Aku mulai membaca kalimat demi kalimat dalam buku tersebut dan mencoba untuk memahami makna yang terkandung didalamnya, aku temukan lagi bahwa Jiwa adalah sumber kebijaksanaan, cinta kasih dan kekuatan yang sangat besar, sampai di sini apakah aku masih tidak peduli dengan kekuatan yang sangat besar ini pada diriku…………?

Bab 2, aku telusuri lautan kata-kata, rasanya seperti air jernih yang tidak henti-hentinya menghilangkan dahaga. Apa yang menjadi sumber dari kebijaksanaan yang tak terbatas? Setiap orang yang percaya pada Tuhan pasti menganggap bahwa Tuhan tahu segalanya, itulah bagian dari jiwa kita memahami semesta alam. Bahwa ketika kita melakukan sebuah kesalahan maka tidak akan pernah ada tempat untuk bersembunyi dari Tuhan Yang Maha Mengetahui. Maka kita pasti akan mencari jalan kebenaran untuk menemukan Nya kembali, seperti merasakan kerinduan kembali pulang menemukan kekasih hati.
Membaca halaman demi halaman pada bab 2 ini, aku merasa seperti mengarungi samudra pengetahuan dalam pencarian jiwa yang diberdaya dan kebijaksanaan yang tidak terbatas. Ada sebuah cerita yang ditulis dalam buku ini mengenai sebuah rakit kecil yang dapat memberikan penjelasan tentang pengetahuan teoritis hanya merupakan petunjuk jalan menuju kebijaksanaan tak terbatas. Tapi mungkin akan aku sambung kembali tulisan ini sebagai sebuah perenungan….


Jakarta, 29 Oktober 2008

Senin, 04 Januari 2010

SUARA YANG PALING INDAH

Untuk pertama kali dalam hidupnya, seorang tua pergi dari dusunnya yang terpencil ke sebuah kota besar yang modern untuk menjenguk anaknya.

Ketika berjalan-jalan seputar kota bersama anaknya, ia mendengar suara aneh yang baru pertama kali didengarnya dan sangat menyakitkan telinga. Ingin tahu, ia mengikuti sumber suara tersebut dan menemukan sebuah rumah, yang dari luar jendelanya yang terbuka ia melihat seorang anak sedang belajar memainkan suatu alat musik gesek dengan penuh semangat.

Ngiiik ! Ngook ! Ngiik ! Ngook ! ...mengerikan sekali suara yang dikeluarkan alat itu - yang dari anaknya diketahui bernama 'biola'. Tak pernah ia mendengar suara sejelek itu. Segera ia mengajak anaknya bergegas pergi karena ia tak mau mendengar lebih lama lagi.

Hari berikutnya, ketika ia berjalan-jalan di bagian lain kota tsb, ia mendengar suara indah mendayu-dayu yang membelai telinga tuanya. Tak pernah ia mendengar melodi sedemikian indahnya di dusunnya maka ia segera mencari asal suara tersebut. Ia tercengang, ketika mengetahui bahwa melodi indah tersebut berasal dari seorang maestro, yang memainkan biola sedemikian ahli dan penuh penghayatan.

Baru ia sadari, bahwa sebagus apapun biolanya dan setinggi apapun penghayatan pemainnya, semua tergantung seberapa tinggi proses pencapaiannya dalam belajar memainkan alat tsb. Di awal, suara yang keluar akan sumbang, tetapi semakin tinggi penguasaannya, semakin indah bunyinya.

Esok harinya, ia lagi-lagi mendengar suara yang menurutnya paling biola. Bahkan lebih indah dariSegera ia mencari asal suara itu. Suara itu datang dari orkestra besar yang para pemainnya bukan hanya memiliki pencapaian luar biasa di alat musiknya masing-masing, tetapi telah belajar lebih jauh lagi sehingga bisa menciptakan harmoni suara yang menurut si orang tua, melebihi indahnya suara aliran air pegunungan, melebihi indahnya suara angin di musim gugur di sebuah hutan, melebihi suara burung-burung pegunungan yang bernyanyi setelah hujan lebat. Bahkan melebihi keindahan keheninganpegununga n yang damai di musim salju pada malam hari.

Si Orang tua hanyut dalam alunan simfoni yang luar biasa indahnya, dan sebersit pikiran muncul di kepalanya, "Mungkin alat musik itu sama dengan agama".

Ketika kita bertemu dengan seseorang yang sedemikian "bersemangat" (baca : fanatik) dalam mempelajari agamanya, sehingga mengeluarkan suara-suara sumbang, menyakitkan dan bahkan mengerikan, itu hanyalah proses belajar si pemula agar bisa "memainkan" agamanya dengan baik. Semakin tinggi penguasaanya, maka semakin indah "bunyi"nya. Sewaktu kita bertemu dengan seorang suci, seorang maestro agamanya, sedemikian indahnya ia "memainkan" agamanya, maka ia bisa menyentuh hati kita dan itu menjadi pertemuan berkesan yang memberi inspirasi kepada kita untuk bertahun-tahun, apapun gama mereka.

Ketika para maestro tidak hanya mementingkan dan berusaha menonjolkan keindahan suara 'alat musik'nya masing-masing tetapi juga menciptakan harmoni dengan 'alat musik' lain, maka terciptalah simfoni kehidupan.

"Marilah kita semua belajar dari pelajaran-pelajaran kehidupan dalam
inti kesejukan kepercayaan kita masing-masing. Marilah kita semua menjadi maestro dalam cinta kasih di dalam agama masing-masing. Lalu, setelah mempelajari agama kita dengan baik, lebih jauh lagi, mari kita belajar untuk bermain seperti halnya anggota sebuah orkestra, bersama-sama dengan agama lain, dalam sebuah harmoni!" Itulah suara yang paling indah.