Jumat, 10 Agustus 2012


APA KATA DUNIA
                           

DIKENALKAN KAU HURUF
AGAR BISA MEMBACA
TAPI KAU TAK TAHU MAKNA
APA KATA DUNIA………..

DIAJARKAN KAU BUDIPEKERTI
AGAR SELALU RENDAH HATI
TAPI KAU TAK BERBAKTI
APA KATA DUNIA…………..

JANGAN KAU MALUKAN DUNIA
DENGAN KEMALASAN MU
SEBAGAI ANAK BANGSA

JANGAN KAU MALUKAN DUNIA
DENGAN KEBODOHAN MU
 YANG LUAR BIASA

TAPI BISA KAU BUAT DUNIA
BANGGA DENGAN DIRIMU
KARENA KAU GENGGAM DUNIA
DENGAN KECERDASAN MU

TERIMA KASIH DUNIA…..
KARENA TELAH MELAHIRKAN
GURU YANG TIDAK PERNAH MENGELUH
UNTUK KU DAN SEMUANYA…….

JAKARTA, 20 JUNI 2008

SURAT CINTA


KECEWA…………..!!
Ya…. Satu kata yang bisa membuat duniaku menjadi terbalik 180° memahami loyalitas kerja yang telah aku berikan kepada lembagaku selama 10 tahun 7 bulan 1 hari. Lebih dari 10 tahun aku asyik menggeluti dunia kerjaku mendampingi perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga dengan penuh tanggungjawab, sampai aku mengabaikan bahwa ada yang salah selama ini dalam system managemen kekeluargaan yang dikelola oleh pimpinan. Betapa aku mengabaikan sinyal-sinyal yang telah diantarkan oleh orang-orang disekelilingku, kalau aku berada di dalam sebuah lembaga yang sudah tidak sehat secara managemen. Tetapi aku ditutupi oleh rasa idealisme dan percaya diri yang terlalu tinggi kalau suatu saat pasti ada perubahan besar.

Ternyata, seperti sebuah lingkaran kekerasan yang selalu aku jelaskan kepada para klienku dan akupun terjebak didalamnya. Aku terjebak dengan sebuah proses bulan madu yang selalu ditawarkan untuk sebuah harapan baru, dan selalu aku akan masuk kembali kedalam lingkaran kekecewaan dan kembali ditawarkan secercah harapan. Aku dibenturkan pada kenyataan bahwa banyak klien yang sedang bergantung padaku sehingga berapa banyak orang yang nanti akan dikecewakan oleh ku bila ditinggal. Akhirnya aku luluh juga kembali mencoba memahami dan menerima perlakuan yang sangat diskriminasi terhadapku.
14 tahun sudah berdiri lembaga ini dengan dipimpin oleh orang yang sama selama ini, tidak ada regenerasi ataupun yang bisa membuat mekanisme ini berubah. Yang aku herankan, kemanakah para pendiri dan pengawas sebagai otoritas tertinggi dari lembaga ini? Begitu terlalu takutkah ? ataukah sudah tidak peduli lagi dengan lembaga ini dan para stafnya? Kenapa mesti kita-kita yang harus berjuang sendiri menegakkan keadilan sampai akhirnya mati satu persatu dengan kekalahan.

Bagiku keputusan tidak lagi bergabung kepada lembaga ini adalah sebuah keputusan yang sehat, terutama sehat secara psikis. Aku tidak ingin bertahan dalam kesakitan yang berlarut-larut atas kekecewaan ini. Cukup sudah aku berpikir lama untuk mengambil sebuah keputusan yang terpenting bagi hidupku untuk keluar dari lembaga ini. Aku tidak ingin mengalami depresi akibat perlakukan lembaga ini kepada ku, walaupun setengah mati aku masih mencintai pekerjaanku. Aku merasa sudah saatnya keluar dari zona ini dan aku harus berada kedalam zona yang baru, dan aku yakin zona barupun mempunyai keunikan tersendiri.

Maka, tepat pada tanggal 6 September 2008, aku serahkan sepucuk surat “cinta” kepada pimpinanku, aku katakan padanya, “ Maaf, saya hanya sampai disini bisa menemani anda….!!!”
Dan duniapun akhirnya berubah.

Jakarta, 1 Nopember 2008

pindahan dari Multiply

Add caption
PRESS RELEASE

PERLAWANAN PENULIS PEREMPUAN TERHADAP KDRT 

Jika di era 60-an novelis laki-laki sering kali menggambarkan sosok perempuan sebagai makhluk tak berdaya, lembut, dan cenderung pasif penokohannya dalam karya-karya mereka, maka mulai era 90-an penulis perempuan mulai menggeliat dan melahirkan karya sastra, namun sayangnya karya yang dihasilkan belum mewakili perempuan seutuhnya. Tanpa disadari mereka tetap melukiskan perempuan sebagimana pengarang laki-laki menggambarkan sosok hawa; yang lemah, selalu tertindas, mengalami pelecehan seksual dan seterusnya.

Bahkan pembaca Indonesia sempat kebanjiran karya yang sebenarnya adalah bagian dari sastra sarat pornografi. Alih-alih memberdayakan perempuan dalam karyanya, kecenderungan mereka justru mengidentifikasi perempuan sebagai makhluk ‘penggoda laki-laki’ dan punya kekuatan seksual untuk ‘menundukkan’ laki-laki. Sampai akhir tahun 90-an, kita belum menemukan karya penulis perempuan yang lantang menyuarakan ketertindasan perempuan atas perlakuan lalim dan tak adil yang menimpa mereka. Baik penulis laki-laki ataupun perempuan, masih tetap memposisikan perempuan sekedar sebagai obyek penderita dalam karyanya. Awal 2000-an, mulai banyak bermunculan penulis laki-laki dan perempuan yang bergiat menulis dan membicarakan perempuan sebagai subjek sejarah dalam segala lini kehidupan. Termasuk dalam tema Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), semakin banyak penulis laki-laki dan perempuan yang menjadikannya sebagai isu sentral dalam karya-karyanya, dengan tujuan pembelajaran, penyadaran, dan pemberdayaan bagi pembaca karya tersebut.

 Seperti buku “Luka di Champs Elysees” yang ditulis oleh Rosita Sihombing (www.sikrit.multiply.com) dan “Dari Balik Dinding Bernama Luka” yang ditulis berdua oleh Nita Candra (http://nitacandra.multiply.com) dan Dian Ibung, ketiga penulis perempuan ini mengangkat isu kekerasan pada perempuan, khususnya yang terjadi dalam rumah tangga sebagai tema sentral yang dibahas dengan nada khas perempuan, ‘lembut’ tapi mampu sekaligus ‘tegas’ di kedua buku tersebut. Jika “Luka di Champs Elysees” adalah sebuah novel satir sekaligus memberdayakan perempuan lewat ruang pop dan semi sastra, maka “Dari Balik Dinding Bernama Luka” adalah hasil observasi penulis atas ketabahan dan kemampuan menjadi survivor para korban KDRT yang mayoritas adalah perempuan. Ketiga penulis buku ini sesungguhnya bukanlah aktifis anti Kekerasan Terhadap Perempuan, akan tetapi, disadari atau tidak, telah tumbuh kesadaran dalam karya mereka untuk menggunakan ruang budaya (baca: novel dan literatur pop lainnya) sebagai media penyadaran yang diharapkan dapat menjangkau seluruh komponen masyarakat untuk penyadaran atas hak-hak perempuan sebagai bagian dari hak-hak manusia.


Fenomena kesadaran penulis perempuan ini, bersanding dengan pendekatan-pendekatan lainnya (aktifis prempuan, komnas perempuan, pendamping perempuan dan lain-lain), merupakan arus perubahan yang penting untuk digulirkan terus menerus! Pendekatan budaya menjadi sangat penting karena seringkali tindakan kekerasan terhadap perempuan sesungguhnya berakar pada praktek budaya yang telah berlangsung berabad abad lamanya. Meningkatnya angka kekerasan terhadap perempuan di tahun 2007 dibanding 2006 yang mencapai 25% menjadi sebuah fenomena yang mengkhawatirkan. Komnas Perempuan mencatat sebanyak 25.522 kasus kekerasan terhadap perempuan muncul sepanjang tahun lalu. Ini berarti sedikitnya 2 perempuan menjadi korban setiap jam. Sebagian besar tindak kekerasan terjadi di sebuah tempat dimana kedamaian dan perlindungan adalah dua hal yang seharusnya menaungi setiap anggota keluarga.

Selain ketiga penulis yang akan hadir pada peluncuran kedua buku ini, aktifis perempuan Evi Permata Sari yang telah lama melakukan pendampingan di Mitra Perempuan akan berbagi saran tentang bagaimana menyikapi korban kekerasan yang sangat membutuhkan perhatian dan bantuan kita.

 Kedua buku ini insya Allah akan diluncurkan pada: Hari/Tanggal : Minggu, 14 Desember 2008 Tempat : MP Book Point, Jl. Puri Mutiara Raya No 72 Cipete Jakarta Selatan. Telpon: 021-75915762 Waktu : 10.00 WIB - selesai

Selasa, 24 Juli 2012

Kekerasan Terhadap Perempuan dan minimnya informasi HIV-AIDS


Tiap 3 menit, 1 orang perempuan mengalami kekerasan.
Tiap 1 jam, terjadi 16 kasus kekerasan terhadap perempuan. (Komnas Perempuan, 2011)

Kasus kekerasan terhadap perempuan setiap tahunnya terus meningkat. Menurut catatan Tahunan Komnas Perempuan, menunjukan dalam 5 tahun terakhir, angka kekerasan terhadap perempuan meningkat hampir 7 kali lipat. Pada tahun 2009, tercatat kekerasan terhadap perempuan mencapai 143.586 kasus atau naik 263 % dari jumlah tahun sebelumnya yaitu 54.425 kasus. Resiko yang ditanggung oleh kaum perempuan yang mengalami kekerasan cukup tinggi, karena akibat dari kekerasan ini dapat dihubungkan dengan munculnya beragam masalah kesehatan yang serius yang mempengaruhi kehidupan perempuan.

Dampak buruk dari kasus kekerasan terhadap perempuan yang berhubungan dengan kesehatan perempuan mencakup 3 gangguan yakni:
  1. Gangguan kesehatan fisik, termasuk luka/cidera
  2. Gangguan kesehatan mental (jiwa), termasuk depresi, stress bahkan percobaan bunuh diri
  3. Gangguan kesehatan reproduksi, termasuk kehamilan tak dikehendaki, infeksi saluran reproduksi, Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk infeksi HIV/AIDS, aborsi tak aman, keguguran/abortus tak disengaja atau berat badan lahir rendah, komplikasi kehamilan, gangguan organ reproduksi dan gangguan seksualitas. 
Terkait pada gangguan kesehatan reproduksi bagi perempuan terutama Infeksi Menular Seksual, bahwa dengan atau tanpa terjadinya kekerasan seksual terhadap perempuan, setiap orang (baik laki-laki maupun perempuan) yang sudah aktif seksual sesungguhnya beresiko tertular penyakit kelamin (IMS). Dan perempuan beresiko lebih besar untuk tertular karena bentuk alat reproduksi perempuan lebih rentan terhadap penularan IMS. Apalagi bila pelaku perkosaan atau pemaksaan hubungan seksual mengidap IMS termasuk HIV-AIDS, maka korban akan beresiko tertular. Pada beberapa jenis IMS termasuk infeksi HIV-AIDS, mungkin baru timbul gejalanya setelah melewati masa tunas setelah beberapa bulan/tahun atau tidak dapat diketahui dengan segera, maka untuk mengetahuinya sebaiknya dilakukan tes HIV atau mengikuti konseling HIV-AIDS.

Berdasarkan Laporan triwulan kedua tahun 2011 oleh Kementerian Kesehatan RI kasus AIDS berjumlah 2001 yang dilaporkan berdasarkan jenis kelamin, sebanyak 1.298 kasus adalah laki-laki, 703 kasus berjenis kelamin perempuan. Sementara penelitian Komisi Penanggulangn AIDS tahun 2011, sekitar 93,3 % perempuan di Indonesia tidak memahami pengetahuan tentang HIV-Aids, hanya 6,7 % perempuan yang mendapatkan informasi. Padahal lebih dari setengah Warga Negara Indonesia adalah perempuan. Minimnya Informasi yang paling dasar dan penting untuk diketahui para perempuan, seperti cara penularan HIV-AIDS, bagaimana hubungan seks yang aman adalah penting untuk diketahui mengingat perempuan sangat rentan tertular HIV-AIDS.

Terkait dengan hal tersebut, informasi berisi cara pencegahan dan cara penanganan termasuk memberikan bantuan kepada mereka  yang potensial terinfeksi IMS dan HIV-AIDS juga kepada ODHA (orang dengan HIV/AIDS) merupakan informasi yang sangat penting dan bermanfaat. Media informasi bagi masyarakat khususnya perempuan yang paling efektif dan bisa dilakukan secara massif adalah memanfaatkan posyandu. Selain itu, media elektronik seperti radio juga bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan akses informasi HIV-AIDS. Tentunya dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti agar mereka lebih peduli terhadap informasi penting yang akan disampaikan.

Selama ini perempuan yang menjadi korban kekerasan masih terbebani dengan persoalan mahalnya biaya pemulihan termasuk pemeriksaan medis, pengobatan, visum dll yang harus ditanggungnya. Tingginya biaya pemeriksaan dan pengobatan IMS dan HIV-AIDS masih merupakan masalah yang memprihatinkan dan menjadi kendala yang dihadapi banyak pihak.

Alokasi dana dalam anggaran negara yang dapat menanggulangi biaya pemeriksaan dan pengobatan bagi mereka yang terkena IMS termasuk HIV-AIDS sebagai bentuk tanggungjawab negara perlu menjadi agenda advokasi bersama lintas sektoral dan bersama lembaga-lembaga penyedia layanan kepada korban kekerasan dan peduli HIV-AIDS. Mengingat telah cukup banyak jumlah orang yang sekarang ini hidup dengan IMS atau terinfeksi HIV-AIDS.

Jakarta, 5 Agustus 2011
Evie Permata Sari
Konselor WCC & Kespro
http://www.facebook.com/notes/evie-permata-sari/kekerasan-terhadap-perempuan-dan-minimnya-informasi-hiv-aids/10150277223752943

PUISI

Laki-laki perindu mimpi 


Dia laki-laki perindu mimpi yang tak bertepi 
Berteman pada bayangan silam yang tlah menghilang 
Dia laki-laki pendamba malam yang kelam 
Yang tak pernah bertemu kala siang menjelang 


Dalam mimpi laki-laki yang merindu bayangan dirinya 
Bertemu dalam lorong tak bertepi 
Terjatuh pada lubang tanpa dasar 
Ditepis sebuah tangan yang meraihnya 
Luruh… gugur …. Dan mati… 


Laki-laki perindu mimpi .. 
Kini tlah mati.. 
Bersama bayangannya sendiri 


Jakarta, 24 Juli 2012 
Aku bukan sebuah pengiburan

Senin, 23 Juli 2012

Segores catatan perjalananku di Baluran

Minggu, 22 Juli 2012, ahh hari ini panas betul cuaca di luar sana, malas rasanya untuk keluar rumah. Tiba-tiba, ingatanku melayang dua minggu yang lalu, seterik ini toh aku masih berada di luar pada sebuah savana indah diujung Jawa Timur, menggowes sepeda lipat ku, menyusuri jalanan berbatu, bahkan merasakan kehangatan rerumputan kering savanna beratapkan langit biru pada siang yang terik. Mari, kuceritakan sedikit ingatanku yang indah pada kalian….

menuju pantai Bama latar belakang Gunung Baluran

Minggu, 8 Juli 2012, Posko Batangan. Pagi yang cerah, pagi yang indah, setelah semalam harus pasang tenda di Posko Batangan, karena terlalu malam untuk melanjutkan perjalanan memasuki areal Taman Nasional Baluran, Serta dikejutkan pada tengah malam oleh tiga ekor anak rusa yang mendatangi tenda kami. Rasanya pagi ini membawa semangat untuk melanjutkan kayuhan sepeda lipatku bersama dua orang teman seperjalanan menyusuri belantara dan savanna yang indah. 


Eits… !! mau kemana kita sebetulnya.. wahh aku jelaskan sedikit yaa dimana sih Taman Nasional Baluran “Afrika” nya ujung Timur Jawa itu, siapa tahu kalian pasti akan tertarik kesana loh. Nih. Kawasan Taman Nasional Baluran (TN. Baluran), terletak di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur dengan batas-batas wilayah sebelah utara Selat Madura, sebelah timur Selat Bali, sebelah selatan Sungai Bajulmati, Desa Wonorejo dan sebelah barat Sungai Klokoran, Desa Sumberanyar. Untuk menuju kesana bisa ditempuh dari Banyuwangi-Batangan, 35 km sementara dari Situbondo - Batangan, 60 km. Keadaan topografi bervariasi dari datar sampai berbukit-bukit dengan puncak tertinggi G. Baluran (± 1.247 m dpl). Memiliki padang savana alamiah (± 40% dari luas kawasan), hutan mangrove, pantai, payau/rawa. Musim tumbuhan yang khas Baluran adalah Widoro bekol (Zyzyphus rotundifolia) dan tumbuhan yang lain seperti Asam (Tamarindus indica), Gadung (Dioscorea hispida), Kemiri (Aleuritas moluccana), Gebang (Corypha utan) dan lain-lain. Terdapat 155 jenis burung yang sudah langka antara lain Walet ekor jarum (Hirundapus caudutus), Banteng (Bos javanicus), Ajag (Cuon alpinus), Kijang (Muntiacus muntjak), Burung merak (Pavo muticus), Ayam hutan (Gallus sp.), Macan tutul (Felis pardus), Kucing bakau (Felis viverrina) dan lain-lain. Di penghujung savanna terdapat pantai Bama Wonorejo yang mempunyai hutan bakau, serta bisa melakukan pengamatan flora dan fauna bisa berjemur di pantai, berenang, snorkeling, menyelam, bersampan, pengamatan biota laut, menyusur pantai, menyaksikan matahari terbit. 

Yaa yaaa… sudah terbayangkan oleh kalian.. betapa indahnya perjalanan hari ini…

Setelah membuat sarapan roti bakar dan minum teh hangat, kami membongkar tenda untuk melanjutkan perjalanan yang masih sekitar 15 km lagi. Hmmm.. dekat sih.. tapi waktu itu belum terbayang medan yang akan ditempuh ternyata bisa dua kali lipat dari perjalanan biasa. Sementara beban panier (tas sepeda) cukup berat juga aku bawa menggowes… eitss… itu isinya adalah perbekalan kami untuk bermalam di Pantai Bama, karena disana sudah tidak ada lagi untuk membeli bahan makanan selama perjalanan dan bermalam kembali. 

Baiklah, karena takut hari semakin siang, sekitar pukul 08.00 wib, kami mulai menggowes menyusuri jalan berbatu yang berkelok naik dan turun. Wow… ini adalah perjalanan jauh yang pertama dengan sepeda lipat ku (si kumkum namanya). Ternyata medan jalannya “keren” habis…. jalan aspal yang rusak dan berbatu, sehingga harus extra hati-hati melaju sepedaku, kalau tidak, bisa tergelincir batu nanti. Jalanan rusak antara Bekol – Bama tidak menyurutkan untuk menggowes sepeda kami. Karena sepanjang perjalanan disana, tidak pernah henti-hentinya disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Sisi kiri dan kanan yang kami lewati diawali oleh pohon-pohon yang rindang. Suara-suara burung ramai sudah terdengar seperti alunan melodi yang menghantarkan sepanjang perjalanan kami, begitu juga sesekali terlihat monyet-monyet hutan bergelantungan di ranting-ranting pohon. Selalu saja kami menemukan titik berhenti sekedar mengambil dokumen foto atau ber”gaya” ria dengan kamera sendiri. Betulkan, perjalanan yang biasanya bisa ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam, ini bisa lama karena kami banyak berhenti untuk sedikit mendokumentasikan dalam kamera ditambah juga karena jalanan yang nyaris rusak dan berbatu. 

Panasnya terik matahari yang sudah membakar kulit kami, tetap tidak menyurutkan gowesan kami. Kami mulai melewati pemandangan yang cukup gersang, rerumputan yang mulai menguning dan kering, cenderung mudah terbakar bila ada saja yang sembrono memercikan api. Kesan Afrika sudah mulai terasa, savanna sudah mulai terhampar di sana, disisi lain kelihatan puncak Gunung Baluran yang menjulang tinggi disebelah kiri kami. Sementara disisi sebelah kanan, adalah hamparan rerumputan yang menguning seperti membawa romantisme tersendiri buatku. 

berbaring dihamparan rerumputan savana Bekol
Jarak 12 km menuju Bekol dengan hamparan savanna yang indah seperti ini, rasanya mempunyai nuansa tersendiri. Tidur direrumputan luas menghampar, menatap langit biru pekat dan gunung Baluran yang berdiri tegak, ada sensasi tersendiri seperti merindukan alam memelukku. Bekol adalah kawasan yang didominasi savanna kering dan tegaknya pohon pilang bertajuk datar sungguh menguatkan kesan seakan-akan berada di Afrika ditambah dengan hawa panas yang menyengat. Biasanya disana akan banyak dijumpai mamalia besar seperti Banteng, Rusa bahkan ajak/anjing liar, sayang kami tidak menjumpai banteng selain segerombolan rusa yang sedang mencari makan. 

Dari Bekol menuju pantai Bama masih sekitar 3 km, jalan menuju ke pantai Bama lebih parah lagi. Batu-batu yang besar mesti kami lewati, sehingga benar-benar harus extra hati-hati menggowesnya. Tiba-tiba diujung pertengahan jalan, aku langsung menghentikan sepedaku, ku lihat di depan ada segerombolan monyet-monyet liar memenuhi kiri dan kanan lajur jalan. Aku jadi ingat, monyet-monyet di Bedugul Bali yang nakal-nakal suka mengambil barang-barang yang menyantel dibadan para wisatawan. Sambil menunggu dua orang teman dibelakangku agar tidak terpisah ketika melewati mereka, ku amankan topi rimbaku dan kacamata yang sekiranya mudah diambil. Akhirnya dengan bergerombol dan tidak terpisah terlalu jauh, kami lewati sekawanan hewan lucu itu. Hehehee… ternyata ketika kami melewati mereka, hewan-hewan itu malah diam saja.. bahkan menjauh dan melihat kami dengan aneh, mungkin mereka pikir, kami manusia aneh yang datang belusukan di tengah hutan dengan menggowes sepeda dan membawa barang dibelakang sepeda kami seperti punuk onta… (hahaa… mungkin saja mereka berpikir begitu yaah..). 

Di penghujung perjalanan kami, terhampar sudah lautan luas biru dan berombak kecil dengan pasir pantai yang putih serta hutan mangrovenya yang lebat. Itulah Pantai Bama, pemandangan yang indah dan tenang seperti mengatakan padaku “selamat datang cinta” nikmati ketenangan Pantai Bama yang asri. Aah.. memandang takjub keheningan pantai Bama, bersama para penghuninya sekawanan monyet-monyet liar yang lucu dan beberapa ekor biawak yang menyusuri pantai, terbayarkan sudah perjalanan kami seharian. Ku tutup hari itu dalam keheningan pantai Bama…… sembari menunggu terbitnya fajar diujung laut Pantai Bama….

Pantai Bama nan cantik

Didedikasikan tulisan ini untuk teman seperjalananku ; Cipluk (Kudus), Om Eko Prayitno (Purwokerto) dan  Om Alief El Ichwan (Bandung), terima kasih sudah menjadi teman belajar seperjalanan dalam mengayuh sepeda. Takjub sepeda lipat ku bisa diajak blusukan kesana. 

Jakarta, 22 Juli 2012.




Jumat, 13 Mei 2011

Menanjak Bukan Lagi Sebuah Momok.

Jurnal Evie Permata Sari


“Bu, berdoalah malam ini dan apapun jawaban Ibu besok akan Evie jalani, diijinkan atau tidak untuk bersepeda ke Jepara semuanya terserah pada Ibu, Evie akan lakukan apa yang akan Ibu sampaikan besok….”
Menerima Piagam Penghargaan dan pengalungan kain torso
dari Bupati Jepara Bapak Hendro Martojo 


Itulah sepenggal pembicaraan aku dan ibu ketika aku meminta ijin untuk bersepeda bersama 9 (Sembilan) Srikandi B2W dari Jakarta ke Jepara. Support yang aku butuhkan dari Ibu sangat ku perlukan dimana nantinya aku harus melintasi ratusan kilometer dengan mengayuh sepeda serta medan yg tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Ini adalah pengalaman pertamaku melakukan touring bersepeda dengan Tim intinya 10 (sepuluh) orang perempuan.

Pada awalnya banyak yang menyangsikan kemampuanku untuk melakukan perjalanan ini, ada yang mengatakan “jalan raya bukan untuk perempuan dia tidak manusiawi”, “kurang kerjaan” dan lain sebagainya. Apalagi dibeberapa simulasi latihan jarak jauh, aku dua kali mengalami kecelakaan terjatuh dari sepeda dengan lebam-lebam dikaki kiri dan tergores krikil aspal di pipi kananku –aku mendapat julukan korban “KDRT” (Kecelakaan dalam Rute Turunan/Tanjakan) – itu semua tidak membuat aku patah semangat. Full support dari Tim yang luar biasa yang aku rasakan serta dari keluarga mendorong aku untuk tetap terlibat dalam Tim 10 Srikandi B2W Gowes ke Jepara.

Poligon Heist 0.3 kendaraan 10 Srikandi
Nerves mendekati Hari H
Sakit perut, berdebar-debar itu yang kurasakan menjelang persiapan pada hari keberangkatan tgl 13 April 2011. Semua kebutuhan sudah aku catat termasuk obat-obatan pribadiku, semua keluarga sudah aku hubungi dan memohon maaf bila terjadi sesuatu yg tidak diinginkan dijalan nanti. Beberapa kali aku hubungi ibu, baik melalui telpon maupun sms, rasanya seperti mau ke medan perang saja perasaanku saat itu, namun melihat dukungan dan semangat dari teman-teman dekat membuat aku menjadi tenang.

Menjelang keberangkatan akhirnya tiba juga, melaju bersama para Srikandi, bersepeda menuju Kantor Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KNPPA). Terdengar lagu-lagu perjuangan yang membuat kami memaknai bahwa misi yang kami bawa menuju Jepara adalah juga sebuah perjuangan dan semangat bagi kaum perempuan. Pesan-pesan yang disampaikan oleh Ibu Linda Amalia Sari, Menteri KNPPA bagaikan ibu bagi para Srikandi serta nasehat yg disampaikan oleh Om Toto Sugito selaku Ketua Umum B2W Indonesia menjadi semangat kami selama perjalanan menuju Jepara.

Dan dimulailah pengalaman perjalananku….
Etape pertama Jakarta-Purwakarta total jarak 110 km kami lalui. Aku belum menemukan ritme kayuhanku dengan teman-teman yang lain sehingga aku menjadi orang yang selalu tertinggal, namun aku tidak pernah sendirian, karena ada teman-teman lain dari komunitas pesepeda baik dari Tangerang, Jakarta maupun Bekasi yang menemani kami sampai perbatasan Karawang. Mereka selalu berada disebelah kanan dan belakangku untuk memberikan semangat padaku yang mulai kelelahan. Mendekati Cikarang, sepedaku mengalami masalah, kayuhannya begitu berat dan ketika dicek ternyata rem belakang menempel terus pada ban, sehingga aku harus ganti sepeda lain untuk meneruskan perjalanan, sementara Tim Teknis memperbaiki sepedaku (Terima Kasih buat Ulil ).

Panas mulai aku rasakan diawal perjalanan ini, lagi-lagi teman-teman selalu memberikan support terus serta mengingatkanku untuk tetap minum walau tetap saja aku tertinggal di belakang. Menjelang siang hari, kondisiku sudah mulai melemah, perutku mulai sakit karena PMS (Post Menstruation Syndrome) akhirnya aku hanya bisa selesaikan etape pertama ini di Karawang tempat makan siang, setelahnya aku harus masuk ambulance. Sedih juga perasaanku saat itu, membayangkan teman-teman berjuang melawan panas sementara aku mesti tiduran di ambulance. Namun aku bangga mempunyai Tim Srikandi, Pelatih dan Tim pendukung yang solid. Mereka semua membesarkan hatiku dan penuh perhatian, bisa bayangkan Mas Wang –Tim Logistik - yang selalu direpotkan dengan banyak permintaan logistik khusus buat kami perempuan semua, berusaha mencarikan minuman Kiranti buat ku (Terima kasih Mas Wang) dengan guyonannya yang selalu membuat kami tertawa. Juga Glen pelatih kami yang selalu memberikan semangat dan membesarkan hatiku, bahwa aku masih punya banyak hari lagi untuk melakukan perjalanan ini sehingga aku benar-benar merasa nyaman berada di ambulance sementara yang lainnya tetap melanjutkan bersepeda menuju Purwakarta. Kami semua sampai di penginapan lebih cepat 30 menit dari jadwal, bersamaan dengan itu hujan deras mengguyur kota Purwakarta.

Etape Kedua, keadaanku cukup sehat untuk melanjutkan kembali perjalanan etape kedua yaitu Purwakarta-Kadipaten (Sumedang) dengan jarak tempuh 120 Km. Rutinitas pagi mesti bangun jam 5.00 wib dan harus siap pukul 6.00 wib untuk melakukan sarapan, minum vitamin, cek tensi darah oleh Tim Dokter, pemanasan dan pukul 7.00 wib sudah siap mengayuh sepeda kembali. Kali ini perjalanan cukup lumayan pemandangannya serta banyak pohon rindang yang dilalui oleh kami, namun tetap saja kontur tanah pegunungan yang turun naik mesti kami lewati dan aku tetap kewalahan juga, apalagi aku masih belum bisa menemukan ritme kayuhanku dengan teman-teman sehingga aku masih tetap berada di belakang. Namun ketertinggalanku tidak membuat aku patah semangat, bahkan aku menikmati perjalananku dengan pemandangan yang ku lewati, persawahan, kebun tebu, melihat petani menggarap lahan, sesekali memandang puncak Gunung Ciremai yang indah tegak berdiri, seakan menyambut kedatangan kami didaerahnya.

Ada cerita lucu ketika aku harus melewati arah Kadipaten dengan jalan yang bergelombang panjangnya kurang lebih 20 Km. Beberapa teman-teman sudah melaju dengan kecepatannya masing-masing. Karena kontur tanah yang bergelombang sehingga aku bisa melihat dari kejauhan mereka sudah jauh di depan, sementara aku dan Tante Rifa menikmati perjalanan berdua sambil bercerita. Kami sengaja ngobrol sepanjang perjalanan bergelombang agar melupakan bahwa jalan ini membuat kami bosan sambil menyamakan ritme kecepatan kami berdua. Tidak terasa akhirnya selesai sudah kontur tanah bergelombang yang kami lalui, sedikit masih ngobrol aku mencoba untuk menambah kecepatanku sambil belajar juga bagaimana kalau di jalan yang datar. Aku menikmati laju sepedaku dengan kecepatan rata-rata 20 km/jam, semakin ringan bila di jalan datar seperti itu. Oupsss….. tiba-tiba aku tersadar Tante Rifa aku tinggal terlalu jauh, perasaan tadi masih nyambung obrolan kita dan ku tengok kebelakang ternyata aku sendirian (duhh maaf ya Tante Rifa..). Mau menunggu yang dibelakang sudah jauh 4 Km, sementara mau menyusul yang di depan aku sudah ketinggalan 8 Km ini aku ketahui dari David yang hilir mudik mengendarai motornya, akhirnya aku memutuskan melanjutkan perjalananku dan dipertengahan jalan aku menerima tawaran evakuasi dari Tim Logistik untuk sampai pada titik grouping dimana semua Tim berkumpul.

Sebetulnya jalur Kadipaten adalah jalur yang mendadak dipertengahan jalan Tim harus memutuskan. Setelah mendapat informasi dari beberapa teman-teman B2W di Sumedang dan konsultasi ke Jakarta bahwa jalur Subang-Sumedang bila dilalui oleh Tim Srikandi agak beresiko apalagi bila siang hari sering turun hujan pada kontur tanah yang berbukit cukup berbahaya. Akhirnya diputuskan memakai jalur tengah yaitu Kadipaten walau akan menambah jarak sejauh 40 km, tetapi cukup aman dan untuk perjalanan keesokan harinya menuju kota Cirebon justru menjadi lebih dekat sekitar 55 Km. Dan keputusan ini adalah keputusan yang tepat dan cepat, demi kenyamanan dan keselamatan semuanya, Glen memutuskan hal ini.

Hari kedua ini Tante Rini harus masuk ambulan seperti penyakit ku di hari pertama PMS (Post Menstruation Syndrome) tapi kelihatannya lebih parah, karena Ceuceu panggilan sehari-harinya, harus memakai oksigen dan diinfus. Sesampai dipenginapan, aku sekamar dengan Ceuceu dan Tante Meika, kami berdua menjaga dan mengingatkan makan agar besok pagi bisa pulih dan siap melakukan perjalanan kembali.

Etape ketiga, Kadipaten- Cirebon yang hanya berjarak 55 Km, dapat kami lalui kurang lebih 3 jam perjalanan. Ini adalah etape paling singkat dari enam etape yang kami lalui. Pukul 9.30 kami semua sudah sampai di Kota Cirebon bahkan teman-teman B2W Cirebon juga merasa kaget karena kami sampai sangat cepat sekali, sehingga kami mesti menunggu beberapa menit untuk memberikan kesempatan mereka menyiapkan penyambutan kami menuju kota Cirebon. Di Cirebon inilah kami beristirahat satu hari sambil menikmati Keraton Kanoman Cirebon dan sempat bertemu dengan Pangeran Patih salah satu dari keturunan Kasultanan Cirebon.

Etape keempat, Cirebon-Pekalongan. Ini merupakan etape terpanjang 136 km dan juga merupakan etape terpanas dengan suhu udara kisaran 31 derajat celcius dengan kondisi lalulintas yang padat dijalur Pantura. Namun pengalaman dietape ini adalah, teman-teman Ranger yang berjumlah 5 (lima) orang dari Tangerang sengaja datang ke Cirebon untuk menemani kami sampai ke Pekalongan kemudian diperbatasan Brebes ternyata kami disambut oleh kepala Dinas Perhubungan dan DLLAJR kota Brebes dialun-alun kota. Kami disuguhi buah-buahan dan pisang rebus serta minuman, dan disambut oleh banyak sekali komunitas sepeda. Disana sempat rehat sebentar sebelum dilepas oleh kepala Dinas Perhubungan kota Brebes. Sesuatu yang tidak kami duga dengan penyambutan yang luar biasa kepada kami, rasanya benar-benar menyalakan semangat kami. Apalagi sejak dari kota Cirebon, sudah mendapatkan pengawalan dari DLLAJR dan POLANTAS, sehingga perjalanan kami jauh lebih aman melintasi jalur pantura.

Namun panas menyengat yang membuat aku benar-benar kehabisan nafas sehingga selalu diingatkan untuk terus minum 10 menit sekali. Makanan dan minuman terus diberikan oleh Tim Logistik kepada kami, sembari mengayuh sepeda. Tidak disangka ternyata cukup lihai juga aku bisa menerima bike feeding dari mobil logistik, seperti atlet saja kami semua padahal selama simulasi latihan tidak pernah ada latihan bike feeding, dimana konsumsi makanan dan minuman diberikan dari mobil logistik sambil berjalan dan kita tetap mengayuh sepeda tanpa harus berhenti.

Perjalanan yang cukup melelahkan tetap saja selalu diselingi dengan candaan, baik dari Tim Logistik maupun dari Tim Srikandi. Ketika aku sudah kelelahan, mobil logistik melintas dan Mas Wang akan meneriakan pada kami, “mau pesen apaan…” kita semua akan berteriak, “pecel lele”, “rujakkkk”, “es campur”….. dan kami semua tertawa… hilang sesaat panasnya Pantura. Dan lagi-lagi sebelum melewati perbatasan kota Pekalongan, kami sudah ditunggu banyak sekali komunitas pesepeda yang akan mengantarkan kami memasuki kota Pekalongan, benar-benar hal yang diluar dugaan, begitu besarnya apresiasi masyarakat terhadap perjalanan para Tim Srikandi ini menuju Jepara, kami merasa tidak sendiri tetapi selalu ditemani dan disemangati oleh masyarakat yang daerahnya kami lintasi. Pukul 16.35 wib, dengan kecepatan rata-rata 22 km/jam, kami sampai di penginapan Pekalongan dengan penyambutan yang luar biasa dari komunitas sepeda yang berada di Pekalongan dan juga rekan-rekan media yang sudah berkumpul di sana. Perjalanan terpanas yang kami lintasi berakhir sudah dengan tepukan gemuruh dan jabatan hangat dari komunitas sepeda, serta kawalan dari teman-teman Ranger melupakan wajah-wajah kami yang telah terbakar matahari. Hasil pemeriksaaan dokter pada malam hari, tensi darah kami rata-rata mengalami kenaikan dibandingkan hasil pagi sebelum memulai perjalanan. Tetapi kami semua sampai dengan selamat dan tidak kurang suatu apapun dari semua Tim dan tak lupa pula setiap aku sampai atau menjelang keberangkatan dari satu etape ke etape lain pasti aku langsung mengabarkan ibuku, karena beliau sarat dengan doa-doa sepanjang perjalananku.

disambut warga dan murid sekolah
Etape kelima, Pekalongan-Semarang dengan jarak tempuh 97 Km dengan kontur jalan yang sangat berbeda dari semua etape yang dilalui akan banyak melewati tanjakan dan jalan yang berbukit, karena kami harus melewati daerah Alas Roban yang cukup terkenal. Membayangkan tanjakan perasaanku sudah ngilu karena mengingatkan ku pada jalur latihan ke bandung ketika melewati tanjakan Cariu. Di sana aku pernah terjatuh dan tergelincir dikrikil aspal yang mengenai pipi kananku. Hari itu, aku benar-benar membayangkan tanjakan yang nanti aku hadapi dan membuat aku ciut. Namun melihat semangat teman-teman Srikandi membesarkan hatiku kembali.

Perjalanan kembali dimulai dengan tetap mendapatkan pengawalan dari Polantas dan Dinas Perhubungan, mendekati daerah Batang kami dikagetkan dengan sekumpulan anak-anak sekolah serta guru-guru yang berdiri dipinggir jalan dan membawa spanduk “Selamat datang Srikandi B2W Gowes ke Jepara”, kejutan lagi bagi kami. Mereka berteriak melambaikan tangan dan memberikan kami semangat. Kemudian sampai di Batang, kami harus berhenti, karena Kapolres Batang serta pemda setempat ingin mengawal kami sampai perbatasan. Beberapa murid-murid SD serta guru-guru berkumpul membawa spanduk “Selamat datang Srikandi B2W Gowes ke Jepara” dan panggung kecil didirikan di pinggir jalan. Melihat ini semua, aku terharu dan menitikan airmata betapa perjalanan kami ini ternyata membawa begitu banyak semangat dan harapan, melihat murid-murid harapan bangsa ini begitu antusias menyambut kedatangan kami, tidak bisa berkata apa-apa lagi selain mengumpulkan semangat dari mereka agar aku bisa melintasi tanjakan nanti. Melanjutkan perjalanan dari Batang dengan dikawal oleh Polwan-polwan yang bersepeda serta banyak komunitas sepeda lainnya yang melepas perjalanan kami. Sepanjang melintasi perjalanan ke Semarang, banyak sekali ditemui anak-anak sekolah berkumpul di pinggir jalan menyambut kedatangan kami. Setiap bertemu dengan mereka aku seperti mengumpulkan sebuah kekuatan untuk dipakai melintasi tanjakan di Alas Roban, nama yang begitu melekat karena terkenal dengan jalan yang berbukit dan tikungan yang tajam.

Mulai menapaki tanjakan pertama, posisiku masih tetap dibelakang teman-teman Srikandi lainnya dan berusaha mencoba menikmati perjalanan dengan hati yang ketar-ketir. Untung, Glen pelatih dan sahabat kami yang selalu berada didekat ku terus membantu aku melewati tanjakan demi tanjakan sembari memberikan strategi-strategi mengayuh yang benar dengan memainkan roda gigi depan dan belakang. Satu persatu tanjakan dan turunan berhasil aku lalui, namun masih banyak lagi di depan mataku yang harus aku lewati. Bila sudah berjalan diatas tanjakan, kadang aku tidak berani melihat kedepan lebih sering aku melihat kebawah walau sesekali aku melihat kedepan juga.

Pada titik putus asaku melewati tanjakan lainnya, aku hanya berdoa dan selalu membayangkan ibu dan terngiang ditelingaku “tetap semangat”, terus ku kayuh pelan-pelan sepedaku sambil terus menatap ke bawah hingga mendekati puncak, tiba-tiba terdengar teriakan dan gemuruh tepuk tangan memberikan aku semangat, “hayoo terus..”, “sedikit lagi..”, “hayoo bisa..” aku seperti bermimpi dan kulihat ke depan ternyata diujung sana begitu banyak anak-anak sekolah yang berkumpul menyambut kami, dan aku seperti terpacu untuk bisa sampai ke puncak jalan dengan perasaan yang ringan. Sesampai diatas mereka semua bertepuk tangan dan menyambutku, aku dibuat terharu dan menangis lagi, ahh untung kacamata pelindungku tidak memperlihatkan kepada mereka betapa aku sangat terharu sekali atas semangat mereka. Dan sejak itu, ketika aku melintasi tanjakan yang tinggal sedikit lagi, rasanya tidak terasa menakutkan dan bukan merupakan momok bagiku, karena semangat dari anak-anak sekolah seperti memberikan aku kekuatan untuk mencapai puncak dan menikmati bonus turunan. Ditambah lagi, aku banyak belajar dari Glen bagaimana aku harus mengatur roda gigi ketika melewati tanjakan ataupun turunan, dan aku menikmati sampai melewati turunan Alas Roban dan berakhir di kota Kendal untuk makan siang dan istirahat bersama para Pemerintah Daerah Kabupaten Kendal, Kapolres Kendal serta komunitas sepeda disana.

Lagi-lagi penyambutan oleh komunitas sepeda yang tidak pernah berhenti dari satu kota ke kota lain, sebelum perbatasan Semarang, kami sudah ditunggu oleh teman-teman komunitas sepeda dari Semarang untuk mendampingi kami menuju kota Semarang. Sesampai di Balaikota Semarang tepat pukul 15.30 wib, lebih cepat satu setengah jam dari jadwal semula. Kami berpelukan semua, karena berhasil melintasi tanjakan Alas Roban yang terkenal dengan selamat semua. Etape ini adalah perjalanan yang begitu mengesankan, aku bisa mengalahkan diriku sendiri, mengatasi ketakutanku atas tanjakan dan mengajarkan aku arti solidaritas Tim. Satu Etape lagi yang harus kami lalui menuju Jepara.

Etape keenam, Semarang-Jepara. Ini adalah etape terakhir dengan jarak 73 Km. Diawali dengan pelepasan oleh Walikota Semarang di Balaikota, Tim Srikandi memulai perjalanan menuju kota akhir yaitu Jepara. Sudah beberapa hari ini, ritme kecepatanku sudah bisa menyampai teman-teman Srikandi, kadang aku mulai berada dibarisan paling depan namun kalau tidak tahan dengan tekanan angin dari depan, aku akan mundur berada dibelakang salah seorang Srikandi agar memecah arah angin sehingga kayuhanku tidak terasa berat, ini juga strategi yang aku pelajari selama perjalanan dengan teman-teman. Relatif perjalanan menuju Jepara tidak banyak kendala, terkadang kami suka tertawa ketika ada yang berteriak “awas sepeda ria mau lewat”, atau juga “ada sepeda fun bike”. Terkadang teriakan patroli polisi membuat kami agak bingung ketika mereka mengatur lalulintas agar para pengendara motor dan mobil tidak melintasi jalur kiri, dari pengeras suara mobil patroli terdengar pak polisi mengatur arah jalan raya, “tolong mobil dan sepeda tetap berada di jalur kanan..”, pertama-tama kami bingung kenapa sepeda juga mesti ikutan ke kanan, sementara mobil patroli di depan yang arahnya kami harus ikuti tetap berada di sebelah kiri. Baru kami mengerti ketika bapak Polisi mengatakan lagi, “mobil dan sepeda tetap berada di jalur kanan, sepeda onthel akan lewat”…. Ohh rupanya diwilayah Jawa Tengah kalau motor akan disebut dengan Sepeda Motor dan kalau sepeda di sebut Onthel… jadi kami suka tertawa ketika banyak yang menyambut kami dengan teriakan sepeda onthel… karena kalau di Jakarta yang di sebut sepeda onthel adalah sepeda kuno/antik.

Kantor Walikota Semarang
Pati Lurus, Jepara Kiri
Aku lihat papan penunjuk arah yang telah menyebutkan arah Jepara. Melihat nama Jepara di papan penunjuk arah sudah membuat aku merinding. Bagaimana tidak, beberapa jam lagi kami akan sampai di Bumi Pertiwi tempat kelahiran R.A. Kartini. Aku melihat semangat teman-teman Srikandi begitu menggelora sehingga kecepatan kayuhannya hampir rata-rata 21 Km/jam. Aku juga begitu semangat ingin cepat sampai di Jepara yang diperkirakan awalnya kami akan sampai pada pukul 4 sore. Namun pada pukul 9.30 wib kami sudah sampai di daerah perbatasan Jepara, kira-kira 20 km lagi dari Jepara. Rencananya kami harus berhenti untuk makan siang disana sebelum melanjutkan perjalanan ke Jepara, namun apadaya kami sampai jauh lebih pagi dari yang diperkirakan, sehingga Tim memutuskan untuk melanjutkan saja sampai finish di kota Jepara.

Sejak dari etape ketiga di Cirebon, Tim selalu sampai lebih awal dari jadwal yang telah direncanakan semula. Semuanya seperti diberikan kekuatan yang luar biasa dalam mengayuh sepedanya hingga tidak terasa begitu cepat dari waktu yang telah ditentukan. Gerbang kota Jepara sudah mulai terlihat dan sebagian berteriak “JEPARA…. “, dan tepat pukul 11.20 wib, kami tiba di Musium Kartini. Pecah sudah tangis dan haru melingkupi kami semua sembari berpelukan pada semua Tim. Tak lupa doa syukur langsung kami hantarkan untuk Sang Khalik, yang selalu melindungi perjalanan kami dari awal hingga akhir. Ucapan selamat dan jabatan hangat dari semua teman-teman komunitas sepeda dan para wartawan menyambut haru. Kami berhasil melewati tiap rintangan dengan tetap solid dan penuh semangat. Aku langsung menelpon ibu dan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga buat support dan doanya selama ini, aku menangis diujung telepon mendengar suara ibu. Aku yang selama latihan sering terjatuh dan menjadi korban “KDRT”, namun selama perjalanan dari Jakarta menuju Jepara tidak sedikitpun tergores luka.

Di Musium Kartini
Pengalungan kain Torso dan pemberian penghargaan dari Bapak Bupati adalah hadiah terindah buat Ibu. Jepara, kota kecil yang apik dan bersih penuh dengan semangat Kartini tidak akan pernah aku lupakan, tidak akan pernah. Karena disana ada jiwaku yang tumbuh membesar bersama pohon jati di SD SEMAI dengan sahabat-sahabat kecilku Rama dan Meyla yang merawatnya.

605 Km, “ ini perjalanan panjang paling Gila “ Kompas, 20 April 2011

Jakarta, 29 April 2011