Rabu, 12 Februari 2014

Kasepuhan Ciptagelar, Sukabumi Jawa Barat

Kasepuhan Banten Kidul adalah kelompok masyarakat adat Sunda yang tinggal di sekitar Gunung Halimun, terutama di wilayah Kabupaten Sukabumi sebelah barat hingga ke Kabupaten Lebak, dan ke utara hingga ke Kabupaten Bogor. Kasepuhan (Sd. sepuh, tua) menunjuk pada adat istiadat lama yang masih dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat Kasepuhan Banten Kidul melingkup beberapa desa tradisional dan setengah tradisional, yang masih mengakui kepemimpinan adat setempat. Terdapat beberapa Kasepuhan di antaranya adalah Kasepuhan Ciptagelar, Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Cisitu, Kasepuhan Cicarucub, Kasepuhan Citorek, serta Kasepuhan Cibedug. Kasepuhan Ciptagelar sendiri melingkup dua Kasepuhan yang lain, yakni Kasepuhan Ciptamulya dan Kasepuhan Sirnaresmi.

Pemimpin adat di masing-masing Kasepuhan itu digelari Abah, yang dalam aktivitas pemerintahan adat sehari-hari dibantu oleh para pejabat adat yang disebut baris kolot (Sd. kolot, orang tua; kokolot, tetua). Kasepuhan Ciptagelar kini dipimpin oleh Abah Ugi, yang mewarisinya dari ayahnya, Abah Anom, yang meninggal dunia di tahun 2007. Wilayah pengaruh kasepuhan ini di antaranya meliputi desa-desa Sirnaresmi dan Sirnarasa di Sukabumi. Sementara Kasepuhan Cisungsang berlokasi di Desa Cisungsang wilayah Lebak dipimpin oleh Abah Usep. Salah satu ritual adat tahunan Kasepuhan yang selalu menarik minat masyarakat adalah upacara Seren Taun; yang sesungguhnya adalah pernyataan syukur warga Kasepuhan atas keberhasilan panen padi.

Kasepuhan CiptagelarKasepuhan Ciptagelar adalah salah satu komunitas yang tergabung dalam Kesatuan Adat Banten Kidul (SABAKI). Komunitas adat ini bergabung menjadi anggota AMAN sejak konggres pertama pada 17 Maret 1999. Sebagian besar incu putu (warga) Kasepuhan Ciptagelar hidup di dalam wilayah pegunungan Halimun, sejak ratusan tahun yang lalu. Konon, Kasepuhan Ciptagelar berasal dari sebuah kerajaan di Bogor.

Kasepuhan Ciptagelar dipimpin oleh seorang Abah (ketua adat) yang diangkat berdasarkan keturunan. Abah Ugi Sugriana R, adalah pemimpin saat ini, yang merupakan Abah ke sebelas yang tercatat sejak tahun 1368. Pusat pemerintahan Kasepuhan Ciptagelar selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Pindahnya tempat ini berdasarkan wangsit dari leluhur kepada Abah. Akhir tahun 2000, Abah Anom (Alm. Encup Sucipta ayah dari Ugi Sugriana), sebagai pimpinan Kasepuhan pada saat itu menerima wangsit dari leluhurnya untuk pindah ke Ciptagelar setelah 18 tahun berada di Ciptarasa. Alm Abah Encup Sucipta menerima wangsit ini setelah melalui proses ritual.

Perpindahan pusat pemerintahan Kasepuhan ke Ciptagelar merupakan wujud kesetiaan dan kepatuhan kepada leluhur. Mereka percaya bahwa jika perpindahan ini adalah perintah dari leluhur maka “tidak boleh tidak, mesti dilakukan”. Hal ini sesuai dengan nama wilayah Ciptagelar yang berarti terbuka atau pasrah menerima wangsit leluhur (untuk berpindah).Secara administrasi, pusat pemerintahan Ciptagelar berada di Dusun Sukamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat. Lokasi ini berjarak kurang lebih 14 Km dari Desa Sirnaresmi, 27 Km dari Kota Kecamatan, 103 Km dari Kabupaten Sukabumi. Jika diukur dari Kota Bandung berjarak kurang lebih 203 Km ke arah Barat. Titik Koordinat S 06 47” 10,4’.

Sejarah Kasepuhan CiptagelarMenurut Ugis Suganda komunitas adat ini sebenarnya bernama Kaolotan Ciptagelar. Pria yang saat ini menjabat Menteri Luar Negeri Kasepuhan Ciptagelar ini mengatakan bahwa nama Kasepuhan itu penyebutan dari orang luar. Namun kini menjadi populer bagi orang awam. Abah atau pemimpin adat disebut “Bapak Kolot” yang membawahi “Olot Lembur” di setiap desa yang menjadi warga atau “incu putu” Ciptagelar

Konon, Kasepuhan Ciptagelar bermula pada tahun 611 Masehi bertempat di Sajira Banten. Ketua adat saat itu adalah Abah Agung yang memimpin selama 500 tahun. Pada tahun 1.100 Masehi, Abah Agung mendapat wangsit untuk pindah ke Limbang Kuning. Setelah 300 tahun lamanya menikah dengan Ambu Sampih, akhirnya dikaruniai seorang putra yang bernama Aki Buyut Bao Rosa. Selama hidupnya Abah Agung telah beberapa kali pindah tempat. Selama 150 tahun beliau bertempat di Cipatat Bogor dan kemudian berpindah lagi ke Maja. Setelah beliau wafat, Kasepuhan kemudian diteruskan oleh anaknya yang bernama Aki Buyut Warning yang merupakan putra hasil pernikahan dengan Nini Buyut Samsiah. Aki Buyut Warning memimpin Kasepuhan selama 202 tahun di Maja. Kemudian pindah ke Lebak Larang.

Selama tiga tahun di Lebak Larang, Aki Buyut Warning meninggal dunia. Kemudian kepemimpinan diteruskan oleh putranya yang bernama Aki Buyut Kayon. Seperti leluhurnya, Aki Buyut Kayon juga berpindah tempat. Terakhir beliau pindah ke Lebak Binong dan menetap selama 27 tahun lamanya.  Ketika Aki Buyut Kayon wafat, putra mahkota yang bernama Aki Buyut Cebol saat itu belum dewasa, sehingga kepemimpinan Kasepuhan di”warnen” oleh Aki Buyut Santayan Di Pasi Talaga selama 23 tahun. Warnen adalah sebutan bagi orang yang diberi tugas menjadi Pemangku Adat sementara karena sang pewaris tahta belum dewasa untuk memimpin.

Setelah dewasa kemudian Aki Buyut Cebol menjadi Ketua Adat. Beliau bertempat di Tegal Lumbu selama 32 tahun. Kemudian digantikan oleh Uyut Jasiun lalu pindah ke Cijangkorang. Disitu tidak lama, hanya 7 tahun lamanya beliau pindah ke Bojong dan menetap hingga 17 tahun sampai ajal menjemput. Kepemimpinan diteruskan oleh putranya yaitu Uyut Rusdi. Pada tahun 1940 pusat pemerintahan pindah ke Cicemet, dengan membuka areal baru. Setelah 16 tahun lamanya menetap kemudian berpindah ke Sirnaresmi, tepatnya tahun 1956. Kemudian menetap. Pada tahun 1960 Uyut Rusdi wafat dan digantikan oleh Abah Arjo. Selang 15 tahun lamnya menetap di Sinarresmi, Abah Arjo kemudian pindah ke Ciganas. Tujuh tahun kemudian Abah Arjo wafat pada tahun 1982. Beliau digantikan putranya yang bernama Abah Encup Sucipta yang terkenal dengan sebutan Abah Anom. Ayah dari Abah Ugi (Abah Ciptagelar saat ini) mendapat julukan Abah Anom, dikarenakan sewaktu beliau mengantikan ayahnya usianya masih relatif muda. Tahun 1983 Beliau pindah ke Ciptarasa dan menetap selama selama 17 tahun yang akhirnya menetap di Ciptagelar.

Jika dilihat dari sejarahnya, 3 Kasepuhan yakni Ciptagelar, Sinarresmi dan Ciptamulya dimana ketiga Kasepuhan ini berasal dari satu keturunan yang sama.




Rabu, 07 November 2012

JANGAN PERNAH BERHENTI DAN BERSYUKUR


Catatan dari kumpulan cerita Hikmah.

Dream atau Impian memang indah, dan ditangan motivator-motivator yang handal, lengkaplah sudah tekad kita atau motivasi kita apabila kata-katanya telah dirangkai dengan sedemikian indah, “Jangan Pernah Putus Asa Mengejar Impian Anda”
Kata-kata ini begitu menyihir kita untuk bergerak-bergerak- bergerak…namun tetap saja ada kalanya bahan bakar semangat kita habis atau menipis, kendur, loyo, sebel, masa bodoh, menyalahkan orang,keadaan, stress,depressi… dan mulai muncul rasa bahwa “This Not my way… ” ini bukan jalan saya.

Saya merasa jadi asing dengan apa yang saya lakukan saat ini. Kenapa saya memilih jalan ini…? Kenapa orang bisa berhasil..? kenapa saya sial terus…? Apakah anda sering atau pernah atau bahkan sedang mengalami hal diatas ini..? Kalau anda sudah merasa menderita karena persoalan-persoalan di atas, berarti anda harus sudah mulai buru-buru untuk menancapkan tiang atau monument atau Milestone atau apalah...yang merupakan bahwa anda sudah mulai BERHASIL. Dan ini mungkin awal dari keberhasilan anda.
Bagai kita yang memiliki tubuh overweight, yang sedang berusaha untuk mengecilkan berat badan. Dari semua literatur dan saran para ahli berbagai media, yang paling cocok untuk menguruskan perut yang menonjol kian kemari adalah dengan olahraga lari secara teratur misalnya.

Hari pertama kita begitu semangat. 10 kilometer rasanya nggak mustahil akan dilahap pada kesempatan pertama itu. Kita mulai berlari…ternyata… betis anda terasa terpaku di tanah, paha anda pegel, keringat dingin malahan yang keluar atau bahkan keringat yang bikin gatal, nafas anda terburu seakan oksigen sudah begitu menipis, apalagi antara nafas dan langkah tidak kompak, kepala anda mulai berdenyut, satu putaran lapangan tennis seakan sudah cukup untuk meledakkan paru-paru anda..dan terakhir otak anda berkata stop..! berhenti.! Dan akhirnya anda berhenti….sedih, belum juga 1 kilo…pengin lari lagi nggak kuat, esok harinya malah pegel, kesal dengan diri sendiri akhirnya malah jadi makan banyak-banyak karena stress dan menyalahkan diri sendiri atau kadang menyalahkan keadaaan....

Padahal yang harus dia lakukan pada hari pertama dia lari dan tidak kuat itu adalah.... Alhamdulillah.... bersyukur..bersyukur..dan bersyukur... hari ini sudah bisa mulai berolah raga meskipun belum kuat lama, atas kesadaran sendiri, ditempat lain ada yang memulai seperti ini pada saat dia sudah mulai kena stroke ringan....dan esok harinya kita datang lagi ke arena dengan gagah, kita lari lagi dapatnya kok menurun hanya setengah putaran lapangan tennis..? itupun diakhiri dengan memegang lutut yang rasanya mau copot..? bersyukurlah. ..pas pulang timbangan malah naik, biarin saja, besok kita mulai lagi dan selalulah bersyukur..Insya Allah setelah 3-4 bulan segendut apapun tubuh anda anda akan bisa lari 6-8 km non stop..! Bahkan 1 km terakhir bisa Sprint.! hehe..ada kok yang mengalaminya.

  1. Anda karyawan executive yang bergaji diatas 15 juta , kok sekarang bilang gaji cuma 15 juta itu kecil , bersyukurlah, executive yang lain ada yang gajinya gak sampai 6 juta.
  2. Anda pebisnis yang biasa profitnya diatas 10 juta kok sekarang 5 juta saja susah, besyukurlah, temen yang lain ada yang profinya gak sampai 1 juta.
  3. Biasanya bonus 5 bulan gaji sekarang kok pas-pasan hanya bisa untuk beli buku anak sekolah saja ? Bersyukurlah karena ada perusahaan Top Leader sampai sekarang belum juga bagi bonus . . . . . .
  4. Tiap bulan rugi dan nombok melulu..? Tetaplah bersyukur... karena anda sudah memulai, pebisnis yang lain ada yang gulung tikar/ PHK ,
  5. Stress...peluang banyak sekali..tapi nggak tahu mau ambil yang mana.? Syukurilah.. karena ternyata mindset anda sudah mulai berubah..Insya Allah degan bersyukur anda akan dipilihkan pilihan terbaik.
  6. Jangankan memilih peluang bisnis KEPINGIN SAJA TAKUT nanti kesengsem sementara modal dan nyali nggak ada, Bersyukurlah. ..karena anda saat ini sudah memiliki banyak temen2 yang senantiasa akan berempati dgn anda, jangan malu, gengsi, dan semacamnya untuk menceritakan apa yang sedang anda alami saat ini..apalagi hal2 yang menyedihkan, kalau kita mau berbagi kadang malah cepet ilang sedihnya...
  7. Temen sudah banyak, tapi melihat sharing2 mereka kita malah stress...? Apakah ada yang tidak berdaya begini..? Bersyukurlah. ..anda jauh lebih baik, nun jauh disana ada teman sekolah saya yang saat ini jadi guru dengan honor hanya 200ribu sebulan. Beberapa waktu lalu HP dia yang biasanya hanya untuk menerima panggilan saja, diam2 saya isi lewat M-Kios, dia begitu takjub karena 100rb yang saya isikan ini biasanya biaya pulsa dia 5 bulan...!

Jadi syukurilah apa yang anda sudah dapatkan saat ini, dan apabila rasa syukur itu digabungkan dengan mimpi kita yang indah, maka akan kita dapatkan kata-kata yang memiliki power yang sangat dahsyat. Jangan memusingkan apa yang belum kita capai tapi coba periksalah apa2 yang sudah kita dapat, dan bersukurlah. Jangan Berhenti Mengejar Impian Anda, dan Syukurilah Terhadap Apapun yang Sudah Anda Capai Sampai Detik Ini”
" Sering2lah mengucapkan Alhamdulillah. ..dan hayatilah makna "Bersukur" yang terkandung didalamnya dengan hati...niscaya anda akan dengan mudah menangis karena begitu banyak yang telah kita dapatkan.... "

Selasa, 30 Oktober 2012

Loh..Kok Masih Salah....

Pernahkah anda membayangkan seseorang salah jurusan naik biskota?, mungkin ia bisa berhenti di tengah jalan dan mengganti bis dengan jurusan yang tepat atau setidaknya bisa mengganti bis mendekati tujuan yang sebenarnya. Hmm…, tapi kalau salah naik kereta api antar propinsi ?!! ……    inilah cerita ku.

Note:
  • Stasiun Arjawinangun/Indramayu
  • Cirek ; 6.05 – 8:59
  • Argo Parahiyangan : 5:55 – 9.00
  • Stasiun Padalarang

STASIUN GAMBIR

Jam ditangan ku telah menunjukan pukul 05.30, suasana di Stasiun Gambir masih belum terlalu ramai, mungkin karena hari itu bukanlah hari libur. Yah, hari itu, aku mendapat tugas untuk mengisi Training Konseling disalah satu Pesantren yang masuk dalam wilayah Kabupaten Indramayu tepatnya berada di Desa Sliyeg, Tugu Kabupaten Indramayu. 

Pagi itu, aku dan Diah teman seperjalananku yang juga salah satu panitia dari Jakarta sudah berada di stasiun Gambir, karena kereta Cirebon Expres (Cirex) yang akan membawa kami ke Stasiun Arjawinangun akan berangkat pada pukul 06.05 wib dan diperkirakan pada pukul 08.00 wib sudah sampai tujuan.

 “oke, karcis udah ada, masih ada waktu 10 menit kita ke atas aja yuk”, ujarku mengajak Diah untuk naik tangga menuju lantai atas.

Kami menaiki tangga berjalan menuju ke lantai atas, dan terlihat oleh ku disisi sebelah kanan ada kereta yang sedang berhenti.

ehh… ini dia keretanya udah nungguin kataku sambil menuju pintu masuk ke dalam gerbong.

sebentar, aku tanya dulu nih sama petugasnya ujar Diah sambil berjalan menghampiri seseorang yang baru saja dilihatnya keluar dari dalam kereta tersebut.

Aku sempat mendengar Diah menanyakan, “apakah ini benar Cirex ?” dan aku mendengar seseorang yang aku duga adalah petugas PJKA itu menjawab “iya” sambil berlalu meninggalkan kami. Karena merasa yakin bahwa inilah kereta yang akan membawa kami menuju Cirebon, maka masuklah kami mencari gerbong dan nomor tempat duduk sesuai dengan nomor yang tertera pada karcisi. 

Setelah menemukan tempat yang tepat, kami menaruh barang-barang dan duduk dengan manisnya. Karena hari itu adalah hari kerja dan bukan hari libur sehingga tidak terlalu ramai penumpang di dalam gerbong tersebut. Beberapa penumpang sudah mulai masuk satu persatu mencari kursi sesuai nomornya, disisi sebelah kami ada dua orang perempuan yang juga sudah menempati tempat duduknya dan asik mengobrol, namun beberapa kursi di depannya masih kosong dan di belakang kursi kami, ada seorang anak muda duduk sendirian. Sementara, aku dan Diah juga sudah sibuk bercerita, maklum walau kami satu kota, tetapi sangat jarang sekali bertemu, kalaupun bertemu paling pada saat acara seminar atau pertemuan diskusi sesama aktifis LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).

Jam baru menunjukan pukul 5.50 wib, padahal di karcis tertulis jam pemberangkatan pukul 6.05 wib, tapi kok kereta yang kami tumpangi sudah menunjukan tanda-tanda akan jalan, aku hanya berkata dalam hati, “wah..! tumben bukan jam karet nih”, karena berangkatnya lebih cepat beberapa menit. Sementara itu disebelah kiri kereta yang kami tumpangi, aku melihat ada kereta yang baru datang dari arah Stasiun Kota dan berhenti tepat disebelah kereta kami.

Lega rasanya, melihat kereta yg kami tumpangi sudah mulai berjalan. Baru beberapa menit berjalan dan belum juga sampai di Stasiun Jatinegara, Petugas pemeriksa sudah mendatangi kami. Sambil tetap mengobrol bersama Diah, aku berikan dua karcis yang masih terlipat kepada petugas, tanpa membaca lagi petugas langsung menandai tiket yang terlipat dan kamipun kembali asik mengobrol

Selama perjalanan, aku dan Diah terus saja bercerita tanpa henti, walau sesekali melihat ke jendela kalau kereta sedang melewati beberapa stasiun kecil. Tiba-tiba berdering suara telepon genggam Diah, terdengar diujung telepon seseorang menanyakan keberadaan kami dikarenakan takut kami berdua kebablasan stasiun tujuan. Aku berusaha melihat keluar untuk membaca tanda-tanda sudah ada di daerah mana kami berada. Karena, menurut sang penelpon, harusnya jam 8.00 wib, kereta sudah sampai di Stasiun Arjawinangun takutnya kami kebablasan sampai di stasiun Cirebon.

Aku mulai tersadar, sudah lewat jamnya, kok belum sampai juga. Kebetulan kereta melewati sebuah stasiun dan terbaca oleh ku, “Stasiun Padalarang”. 

Aku mulai curiga, perasaan ke Cirebon gak mungkin melewati Padalarang. Situasi makin membuat kami panik, karena bantal-bantal kecil yang dipakai penumpang sudah mulai diambil satu persatu oleh petugas sebagai tanda kereta akan sampai pada stasiun akhir.

Masih dalam kepanikan, aku tanya sama petugas yang mengambil bantal kecil kami,

Pak, ini sudah mau sampai stasiun mana?”.

 Bandung”, jawabnya kalem.

Hah… !!!!!!  teriakku,

ini memang kereta apa”, Tanya kami berbarengan.

Argo Parahiyangan, memang mbak-mbak ini mau kemana?.”, Tanya petugas lagi,

Cirebon..!!!”, jawab kami kompak.

Serempak menolehlah para penumpang disekitar kami dengan kompak mendengar kekagetan kami salah naik kereta api.

Sementara itu, di stasiun Arjawinangun mendapatkan kehebohan tersendiri karena Pak Kyai kehilangan tamu dari Jakarta yang akan dijemputnya pagi itu.



STASIUN ARJAWINANGUN

Kereta baru saja beberapa menit meninggalkan Stasiun Arjawinangun menuju Jakarta. Petugas pemeriksa tiket mendatangi kami dengan ramah berkata,

 “Tiketnya mba”,

sambil memberikan tiket, aku tanya lagi biar lebih yakin,

 Pak, ini bener Cirex  yang ke Jakarta-kan?“.

benaar..”, jawabnya dengan nada ramah sambil membaca tiket kami sebelum ditandai.

Memang mbak-mbak ini tadi dari mana mau kemana?”,

tanyanya lagi sambil mengembalikan tiketnya pada kami. Sedikit curhat, aku ceritakan kejadian tadi pagi,

begitu pak, jadi tadi kita salah naik kereta..”,

Dengan tersenyum petugas itu berkata lagi,

mbak berdua sudah benar ini kereta Cirebon Expres jurusan ke Jakarta kok”,

Senang rasanya kami berdua mendapat penjelasan gak salah lagi naik kereta seperti kejadian tadi pagi. Selanjutnya petugas tersebut melanjutkan penjelasannya.

 “ tapi mbak berdua ini salah gerbong, mestinya gerbong di belakang sana, tapi berhubung masih banyak yang kosong, gak usah pindah juga gak papa kok”.  Ujar petugas sambil tersenyum.


Gubraaaaakssss…….@@@.??.!!!!   

Aku dan Diah berdua tepok jidat..!!

Capee dweehh seharian ini salah kereta terus…. !!!


Note:
Pengalaman perjalanan bersama Diah yang tak terlupakan. Setelah tahunan lalu terpendam baru muncul tulisan ini biar kita bisa tertawa bersama mengingatnya :D walau ditengah perjalanan antara Bandung-Cirebon ada cerita lucu lagi. saya buat catatan komen dari sang "pelakunya"

Dee Hasyim (Diah) :  hahahahaaaa...... kangen jalan bareng lagi Vie hihiiii...... wah belum seru nih ceritanya karena belum sampai ke babak kita ketiduran di bis yang membawa kita ke Indramayu dan kita hampir saja kebablasan karena ketiduran. Kalau saja tidak ada pak Kyai yang berinisiatif naik ke bus dan memeriksa apakah orang yang akan dijemputnya berada di dalam bus itu. hahaaaa ternyata benar dan dia membangunkan kita yang asyik berselancar di dunia mimpi hihiiii belum lagi sang sopir bis yang nungguin aku karena kebelet ke toilet buat buang hajat hahahaaa..... seruuu.....

Jumat, 10 Agustus 2012

Cerita Hikmah


Love 

Cinta 
itu seperti kupu-kupu. Tambah dikejar, tambah lari. Tapi kalau dibiarkan terbang, dia akan datang disaat kamu tidak mengharapkannya.


Cinta dapat membuatmu bahagia tapi sering juga bikin sedih, tapi cinta baru berharga kalau diberikan kepada seseorang yang menghargainya.
Jadi jangan terburu-buru dan pilih yang terbaik.


Cinta bukan bagaimana menjadi pasangan yang "sempurna" bagi seseorang. Tapi bagaimana menemukan seseorang yang dapat membantumu menjadi dirimu sendiri.


Jangan pernah bilang "I love you" kalau kamu tidak perduli.
Jangan pernah membicarakan perasaan yang tidak pernah ada.
Jangan pernah menyentuh hidup seseorang kalau hal itu akan menghancurkan hatinya.
Jangan pernah menatap matanya kalau semua yang kamu lakukan hanya berbohong. 

Hal paling kejam yang seseorang lakukan kepada orang lain adalah membiarkannya jatuh cinta, sementara kamu tidak berniat untuk menangkapnya. ..


Cinta bukan "Ini salah kamu", tapi "Ma'afkan aku". 
Bukan "Kamu dimana sih?",tapi "Aku disini".
Bukan "Gimana sih kamu?", tapi "Aku ngerti kok". 
Bukan "Coba kamu gak kayak gini", tapi "Aku cinta kamu seperti kamu apa adanya".


Kompatibilitas yang paling benar bukan diukur berdasarkan berapa lama kalian sudah bersama maupun berapa sering kalian bersama, tapi apakah selama kalian bersama, kalian selalu saling mengisi satu sama lain dan saling membuat hidup yang berkualitas.


Kesedihan dan kerinduan hanya terasa selama yang kamu inginkan dan menyayat sedalam yang kamu ijinkan. Yang berat bukan bagaimana caranya menanggulangi kesedihan dan kerinduan itu, tapi bagaimana belajar darinya.

Caranya jatuh cinta: jatuh tapi jangan terhuyung-huyung, konsisten tapi jangan memaksa, berbagi dan jangan bersikap tidak adil, mengerti dan cobalah untuk tidak banyak menuntut, sedih tapi jangan pernah simpan kesedihan itu.
Memang sakit melihat orang yang kamu cintai sedang berbahagia dengan orang lain tapi lebih sakit lagi kalau orang yang kamu cintai itu tidak berbahagia bersama kamu. 

Cinta akan menyakitkan ketika kamu berpisah dengan seseorang lebih menyakitkan apabila kamu dilupakan oleh kekasihMu, tapi cinta akan lebih menyakitkan lagi apabila seseorang yang kamu sayangi tidak tahu apa yang sesungguhnya kamu rasakan.

Yang paling menyedihkan dalam hidup adalah menemukan seseorang dan jatuh cinta, hanya untuk menemukan bahwa dia bukan untuk kamu dan kamu sudah menghabiskan banyak waktu untuk orang yang tidak pernah menghargainya.
Kalau dia tidak "worth it" sekarang, dia tidak akan pernah "worth it" setahun lagi ataupun 10 tahun lagi. 

Biarkan dia pergi... ---&say good bye gorgeous boy


APA KATA DUNIA
                           

DIKENALKAN KAU HURUF
AGAR BISA MEMBACA
TAPI KAU TAK TAHU MAKNA
APA KATA DUNIA………..

DIAJARKAN KAU BUDIPEKERTI
AGAR SELALU RENDAH HATI
TAPI KAU TAK BERBAKTI
APA KATA DUNIA…………..

JANGAN KAU MALUKAN DUNIA
DENGAN KEMALASAN MU
SEBAGAI ANAK BANGSA

JANGAN KAU MALUKAN DUNIA
DENGAN KEBODOHAN MU
 YANG LUAR BIASA

TAPI BISA KAU BUAT DUNIA
BANGGA DENGAN DIRIMU
KARENA KAU GENGGAM DUNIA
DENGAN KECERDASAN MU

TERIMA KASIH DUNIA…..
KARENA TELAH MELAHIRKAN
GURU YANG TIDAK PERNAH MENGELUH
UNTUK KU DAN SEMUANYA…….

JAKARTA, 20 JUNI 2008

SURAT CINTA


KECEWA…………..!!
Ya…. Satu kata yang bisa membuat duniaku menjadi terbalik 180° memahami loyalitas kerja yang telah aku berikan kepada lembagaku selama 10 tahun 7 bulan 1 hari. Lebih dari 10 tahun aku asyik menggeluti dunia kerjaku mendampingi perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga dengan penuh tanggungjawab, sampai aku mengabaikan bahwa ada yang salah selama ini dalam system managemen kekeluargaan yang dikelola oleh pimpinan. Betapa aku mengabaikan sinyal-sinyal yang telah diantarkan oleh orang-orang disekelilingku, kalau aku berada di dalam sebuah lembaga yang sudah tidak sehat secara managemen. Tetapi aku ditutupi oleh rasa idealisme dan percaya diri yang terlalu tinggi kalau suatu saat pasti ada perubahan besar.

Ternyata, seperti sebuah lingkaran kekerasan yang selalu aku jelaskan kepada para klienku dan akupun terjebak didalamnya. Aku terjebak dengan sebuah proses bulan madu yang selalu ditawarkan untuk sebuah harapan baru, dan selalu aku akan masuk kembali kedalam lingkaran kekecewaan dan kembali ditawarkan secercah harapan. Aku dibenturkan pada kenyataan bahwa banyak klien yang sedang bergantung padaku sehingga berapa banyak orang yang nanti akan dikecewakan oleh ku bila ditinggal. Akhirnya aku luluh juga kembali mencoba memahami dan menerima perlakuan yang sangat diskriminasi terhadapku.
14 tahun sudah berdiri lembaga ini dengan dipimpin oleh orang yang sama selama ini, tidak ada regenerasi ataupun yang bisa membuat mekanisme ini berubah. Yang aku herankan, kemanakah para pendiri dan pengawas sebagai otoritas tertinggi dari lembaga ini? Begitu terlalu takutkah ? ataukah sudah tidak peduli lagi dengan lembaga ini dan para stafnya? Kenapa mesti kita-kita yang harus berjuang sendiri menegakkan keadilan sampai akhirnya mati satu persatu dengan kekalahan.

Bagiku keputusan tidak lagi bergabung kepada lembaga ini adalah sebuah keputusan yang sehat, terutama sehat secara psikis. Aku tidak ingin bertahan dalam kesakitan yang berlarut-larut atas kekecewaan ini. Cukup sudah aku berpikir lama untuk mengambil sebuah keputusan yang terpenting bagi hidupku untuk keluar dari lembaga ini. Aku tidak ingin mengalami depresi akibat perlakukan lembaga ini kepada ku, walaupun setengah mati aku masih mencintai pekerjaanku. Aku merasa sudah saatnya keluar dari zona ini dan aku harus berada kedalam zona yang baru, dan aku yakin zona barupun mempunyai keunikan tersendiri.

Maka, tepat pada tanggal 6 September 2008, aku serahkan sepucuk surat “cinta” kepada pimpinanku, aku katakan padanya, “ Maaf, saya hanya sampai disini bisa menemani anda….!!!”
Dan duniapun akhirnya berubah.

Jakarta, 1 Nopember 2008

pindahan dari Multiply

Add caption
PRESS RELEASE

PERLAWANAN PENULIS PEREMPUAN TERHADAP KDRT 

Jika di era 60-an novelis laki-laki sering kali menggambarkan sosok perempuan sebagai makhluk tak berdaya, lembut, dan cenderung pasif penokohannya dalam karya-karya mereka, maka mulai era 90-an penulis perempuan mulai menggeliat dan melahirkan karya sastra, namun sayangnya karya yang dihasilkan belum mewakili perempuan seutuhnya. Tanpa disadari mereka tetap melukiskan perempuan sebagimana pengarang laki-laki menggambarkan sosok hawa; yang lemah, selalu tertindas, mengalami pelecehan seksual dan seterusnya.

Bahkan pembaca Indonesia sempat kebanjiran karya yang sebenarnya adalah bagian dari sastra sarat pornografi. Alih-alih memberdayakan perempuan dalam karyanya, kecenderungan mereka justru mengidentifikasi perempuan sebagai makhluk ‘penggoda laki-laki’ dan punya kekuatan seksual untuk ‘menundukkan’ laki-laki. Sampai akhir tahun 90-an, kita belum menemukan karya penulis perempuan yang lantang menyuarakan ketertindasan perempuan atas perlakuan lalim dan tak adil yang menimpa mereka. Baik penulis laki-laki ataupun perempuan, masih tetap memposisikan perempuan sekedar sebagai obyek penderita dalam karyanya. Awal 2000-an, mulai banyak bermunculan penulis laki-laki dan perempuan yang bergiat menulis dan membicarakan perempuan sebagai subjek sejarah dalam segala lini kehidupan. Termasuk dalam tema Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), semakin banyak penulis laki-laki dan perempuan yang menjadikannya sebagai isu sentral dalam karya-karyanya, dengan tujuan pembelajaran, penyadaran, dan pemberdayaan bagi pembaca karya tersebut.

 Seperti buku “Luka di Champs Elysees” yang ditulis oleh Rosita Sihombing (www.sikrit.multiply.com) dan “Dari Balik Dinding Bernama Luka” yang ditulis berdua oleh Nita Candra (http://nitacandra.multiply.com) dan Dian Ibung, ketiga penulis perempuan ini mengangkat isu kekerasan pada perempuan, khususnya yang terjadi dalam rumah tangga sebagai tema sentral yang dibahas dengan nada khas perempuan, ‘lembut’ tapi mampu sekaligus ‘tegas’ di kedua buku tersebut. Jika “Luka di Champs Elysees” adalah sebuah novel satir sekaligus memberdayakan perempuan lewat ruang pop dan semi sastra, maka “Dari Balik Dinding Bernama Luka” adalah hasil observasi penulis atas ketabahan dan kemampuan menjadi survivor para korban KDRT yang mayoritas adalah perempuan. Ketiga penulis buku ini sesungguhnya bukanlah aktifis anti Kekerasan Terhadap Perempuan, akan tetapi, disadari atau tidak, telah tumbuh kesadaran dalam karya mereka untuk menggunakan ruang budaya (baca: novel dan literatur pop lainnya) sebagai media penyadaran yang diharapkan dapat menjangkau seluruh komponen masyarakat untuk penyadaran atas hak-hak perempuan sebagai bagian dari hak-hak manusia.


Fenomena kesadaran penulis perempuan ini, bersanding dengan pendekatan-pendekatan lainnya (aktifis prempuan, komnas perempuan, pendamping perempuan dan lain-lain), merupakan arus perubahan yang penting untuk digulirkan terus menerus! Pendekatan budaya menjadi sangat penting karena seringkali tindakan kekerasan terhadap perempuan sesungguhnya berakar pada praktek budaya yang telah berlangsung berabad abad lamanya. Meningkatnya angka kekerasan terhadap perempuan di tahun 2007 dibanding 2006 yang mencapai 25% menjadi sebuah fenomena yang mengkhawatirkan. Komnas Perempuan mencatat sebanyak 25.522 kasus kekerasan terhadap perempuan muncul sepanjang tahun lalu. Ini berarti sedikitnya 2 perempuan menjadi korban setiap jam. Sebagian besar tindak kekerasan terjadi di sebuah tempat dimana kedamaian dan perlindungan adalah dua hal yang seharusnya menaungi setiap anggota keluarga.

Selain ketiga penulis yang akan hadir pada peluncuran kedua buku ini, aktifis perempuan Evi Permata Sari yang telah lama melakukan pendampingan di Mitra Perempuan akan berbagi saran tentang bagaimana menyikapi korban kekerasan yang sangat membutuhkan perhatian dan bantuan kita.

 Kedua buku ini insya Allah akan diluncurkan pada: Hari/Tanggal : Minggu, 14 Desember 2008 Tempat : MP Book Point, Jl. Puri Mutiara Raya No 72 Cipete Jakarta Selatan. Telpon: 021-75915762 Waktu : 10.00 WIB - selesai